Why We Do Love Cats: Our First Cat, Miu

/ Monday, August 10, 2015 /
"Barangsiapa yang mau mengadopsi kucing, silahkan hubungi saya ya!" 

Kurang lebih begitu status saya di social media. Ada teman yang langsung mengontak saya, bilang secara personal bahwa dia pengen ngadopsi kucing saya (apapun jenis kucingnya, yang penting kucing laki-laki). Saudara saya bahkan ada yang langsung mau ngebooking 4 kucing sekaligus sama induknya. Sayangnya, nggak lama kemudian mamah kucing (si Timplek) meninggal ketabrak mobil. Hiks, saya sedih nggak karuan. 4 kucing itu masih kecil sekali, usianya kurang dari 1 bulan, sehingga mereka masih ketergantungan sekali dengan susu ibunya. Hingga beberapa minggu, saya dan Rara kelimpungan "nyusui" mereka pake pipet. Saya bertekad untuk memelihara mereka sampai sudah agak mandiri, supaya tidak merepotkan orang yang mengadopsi. Namun dari sekian banyak teman, ada satu yang komennya bikin males, "Kucingmu kucing ras bukan? Kalau kucing ras, saudaraku mau ngadopsi." Dengan kata lain: kalau kucing saya kucing lokal/kampung, saudaranya nggak mau ngadopsi. Jahat nggak sih? Ada satu komentar saudara saya yang makjleb buat mereka-mereka yang ngakunya pecinta kucing:

"Kalau mengaku pecinta kucing, harusnya mereka bersedia ngadopsi kucing apapun jenis kucingnya. Kalau mereka cuman mau pelihara kucing yang rasnya jelas, kayak persi, anggora dsbb, berarti mereka pelihara kucing cuman karena gengsi. Bukan karena cinta."

Saya sendiri nggak fanatik sama jenis kucing tertentu. Mungkin karena keluarga besar kami semua pecinta kucing, jadi nggak ada tuh sejarahnya kita nggak pernah melihara kucing barang seekor haha. Jaman ibu saya masih kecil, rumah eyang jadi mirip penangkaran kucing. Ibu saya 10 bersaudara loh, anak laki-lakinya cuman 3, jadi 7 sisanya cewek semua, dan masing-masing pelihara 2 ekor. Jadi tinggal dikali aja, 7 x 2 = 14 ekor kucing! >,< Kebetulan ibu saya menikah dengan bapak saya, yang sama-sama penyuka kucing. Jadilah kami keluarga kucing! Eh, pecinta kucing maksudnya.

Hampir setiap liat kucing di jalanan, bapak dan ibu saya mrebes mili pengen bawa pulang ke rumah. Cuman karena kami pelihara burung, waktu itu jumlahnya masih puluhan, kami nggak pernah berani. Pas saya kecil, beberapa kali bawa kucing liar buat dipelihara, tapi seringnya berakhir dengan kabur dari rumah. Sedih banget. Hingga suatu ketika, kira-kira tahun 2004 atau 2005-an, malam-malam, ada seekor kucing laki-laki kecil ngeong-ngeong di teras rumah. Kucing itu manis sekali, warnanya abu-abu, dengan loreng-loreng tegas. Karena nggak tega, akhirnya kami kasih susu. Setelah itu dia masih bersikeras masuk rumah. Kebetulan samping rumah saya adalah toko material, jadilah bapak saya mindahin kucing itu ke tumpukan pasir sebelah. Nggak lama kemudian, kucing mungil tadi balik lagi ke rumah. Yakin bahwa kucing ini emang terpisah dari induknya, ditambah karena saya, Lila, dan Rara juga ngotot masukin kucing ini ke rumah, akhirnya si mungil diboyong masuk. Sejak itulah kami mulai pelihara kucing, dan untuk pertama kalinya kami punya kucing yang maniiiis sekali dan nggak kabur-kaburan. Saya memberinya nama Miu. Sayangnya, kami udah nggak punya foto Miu karena data di komputer lama hilang semua kena virus. Hiks..

Miu senang sekali ngenyot "jempol"-nya sendiri. Mungkin karena belum cukup puas mengecap kasih sayang induknya. Di rumah, korban yang paling sering ditumpangi Miu ya ibu saya sendiri haha. Anget dan empuk, mungkin. Lucunya, Miu ngenyot telapak tangannya yang sebelah kiri, lalu kalau udah terlalu basah, dia ngelap-ngelap tangannya ke baju ibuku, lalu gantian ngenyot tangan yang sebelah kanan. Sambil melakukan gerakan tangan memijat gitu. Walhasil kaus/daster ibuku pasti jadi basah kuyup kena ludahnya Miu hahaha. Kadang malah kalau ibuku lengah, Miu ngenyot langsung di kausnya! >,<

Setiap pagi, Miu selalu naik ke atas kasurku, ngenyot di selimutku. Bener-bener dah, kalau pake alarm kenapa susah bangun yak? Giliran pake kucing, cuman denger suara ngenyotnya doang aja udah bangun hihi. Seperti kucing rumahan lainnya, Miu nggak pernah keluar rumah. Kegiatannya cuman main di halaman atau bobok-bobok di sofa. Sampai suatu ketika, Miu keluar rumah malam-malam. Kami sekeluarga nyariin kemana-mana, tapi Miu nggak ketemu. Besok paginya, ada anak kecil teriak di pinggir jalan: "Ada kucing mati!!" Ibuku langsung reflek lari ke depan rumah dan ngeliat kucing mati tadi. Ternyata beneran itu Miu! Kami semua lari ke depan, menangisi kepergian Miu. Jahat sekali yang nabrak, setelah nabrak malah dilempar ke halaman depan tetangga. 

Banyak yang komentar gini, "Ini kucingnya? Bagus banget, badannya gemuk, bulunya tebal. Kucing campuran ya?" Percaya nggak percaya, Miu itu kucing lokal, murni kucing lokal. Banyak loh kucing lokal yang dipelihara dengan baik, badannya gemuk, bulunya bersih dan terlihat sehat, bisa tumbuh nggak kalah bagus dari kucing yang di toko-toko itu. Ini yang saya sedih dari Miu, dia bener-bener kucing favorit saya sampe sekarang. Nggak pernah nakal naik meja, nggak pernah nyolong, nggak pernah sembrono naik kasur, kecuali kalau mbangunin pagi-pagi. Sekarang aja saya masih suka nangis kalau inget gimana ngeong-ngeongnya Miu pas di teras, bersikeras minta diadopsi. Saya kangen Miu.. *nangis beneran* Sayangnya kami nggak punya fotonya. Tapi kurang lebih wajahnya kayak gini:


Miu akhirnya dikuburkan di halaman depan tetanggaku itu. Pak Kusnan, tetanggaku tadi yang ngebantu ngubur di halamannya. Terimakasih Pak Kusnan, udah ngekafanin Miu, dan bantu mengantar Miu ke peristirahatan terakhirnya. Sekarang Pak Kusnan sudah wafat, semoga amalan ibadah Beliau yang juga sayang kucing, mendapat balasan dari Allah SWT. Sampaikan salam kami ke Miu ya, Pak.

0 Kicauan:

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger