Resolusi Lebaran Cermat dan Hemat

/ Wednesday, July 22, 2015 /
Lebaran ini saya masih dalam status jobless karena sudah resign dari kantor lama, namun masih belum aktif bekerja di kantor baru. Karena status saya inilah, saya harus lebih cermat dan hemat dalam mengatur pengeluaran saya menjelang lebaran. Yuk simak tips cermat berlebaran ala saya!

1. Membeli Tiket Mudik dari H-90

Membeli tiket sejak jauh hari bisa mengurangi biaya pengeluaran berlebih. Saya sendiri sampai bela-belain begadang demi berburu tiket kereta online lewat situs KAI. Sebagian dari teman-teman saya yang nggak berhasil, terpaksa nitip ke agen perjalanan atau calo. Jangan tanya biayanya, karena sudah pasti harganya jauh lebih mahal. Saya juga heran, kok masih banyak ya calo-calo yang berkeliaran meskipun sistem pemesanan tiket sekarang sudah lebih teratur. Bahkan ada calo tiket kereta api yang menjual tiket beserta kartu identitas palsu, dengan harga tiket hingga Rp. 550.000 untuk satu kali perjalanan!
2. Mengurangi Belanja yang Tidak Perlu

Baju baru? Rasanya dengan usia kepala dua seperti saya ini, sudah tidak pantas lagi ikut berbondong-bondong menyerbu diskon lebaran di mall bareng ibu-ibu dan anak-anak kecil. Selain menguras dompet, berdesak-desakkan di mall pas lagi puasa tentu saja sangat menguras tenaga dan kesabaran. Ketimbang membeli baju baru, saya lebih suka mix-match baju lama dengan kombinasi model dan warna. Siapa yang sadar (dan perduli) bahwa baju lebaran saya ternyata udah dibeli dari dua tahun yang lalu? Yang penting kan momen lebarannya, bukan bungkusnya. Ya nggak sih?


Antri Belanja Hari Raya

3. Membuat Kue Lebaran Sendiri

Sepanjang pengamatan saya, setiap berkunjung ke rumah teman atau tetangga, kue lebaran dimana-mana selalu sama. Yak! Kamu benar! Selain kastengel, selalu ada nastar, putri salju, dan lidah kucing. Variasi lainnya nggak jauh beda dari keempat pakem dasar kue lebaran deh. Kalau dihitung, satu toples kue kualitas bagus dan enak (1/4 kg) harganya bisa melebihi Rp.75.000. Kalau kita beli empat jenis, bisa hampir Rp.400.000 dari uang THR kita habis untuk beli kue doang. Alternatifnya, saya membuat kue sendiri. Kalau lagi rajin, bahan satu kilo kalau dibuat kue bisa jadi bertoples-toples. 

Lebaran tahun ini saya malah membuat jajanan lebaran yang beda dari lainnya. Kenapa? Karena tamu lebaran saya pasti udah bosan dan eneg makan kastengel. Hihi. Saya dan ibu akhirnya bikin manisan agar-agar, cukup membeli agar-agar bubuk warna-warni, gula pasir, dan esens leci/melon, cetak dalam loyang, tunggu sampai mengeras, potong dadu, kemudian dijemur hingga kering. Rasanya? Kayak makan permen jelly, dan yang jelas anak-anak suka. Selebihnya, saya beli kacang Medan, jajanan tradisional yang bisa dengan mudah dibeli di pusat oleh-oleh Banyumas semacam klanting, slondok, sriping pisang, dan keripik kentang oleh-oleh dari Wonosobo. Murah meriah, tapi enak, nagih, dan nggak bikin eneg.


Manisan Agar-Agar


4. Bagi-Bagi Buku, Ketimbang Bagi-Bagi Uang THR

Yang jelek dari adat bagi-bagi uang THR ke anak-anak adalah, mereka jadi punya kebiasaan menilai segala sesuatu dari uang. Terlebih lagi, kebanyakan dari mereka sebenarnya adalah orang mampu. Jarang sekali yang menyisihkan uang THR tersebut untuk ditabung. Rata-rata mereka gunakan untuk membeli sandang atau handphone/gadget terbaru. Sayang sekali kan? Padahal sekarang sudah banyak tabungan junior di Cermati yang setoran awalnya murah, banyak diskon menarik, dengan desain buku tabungan serta atm menggunakan karakter kartun kesukaan anak-anak.

Karena beberapa alasan si atas tadi, sudah sejak lama saya meninggalkan kebiasaan bagi-bagi uang THR ke anak-anak. Saya lebih suka menyumbangkan uang THR tadi ke anak-anak yang benar-benar membutuhkan. Toh sudah sepatutnya 2,5% dari pendapatan kita setiap bulan diberikan kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Dan asyiknya, momennya tidak harus saat lebaran. Sehingga tidak perlu memaksakan kondisi keuangan kita yang tidak memungkinkan.

Sebagai ganti uang THR, saya selalu berburu diskon di toko buku, bahkan dari jauh sebelum lebaran, untuk dikumpulkan, dibungkus rapi, dan dibagi-bagi kepada keponakan dan saudara. Buku yang saya beli disesuaikan dengan usia mereka masing-masing. Jika teliti, kita bisa menemukan buku dengan harga kurang dari Rp.50.000 loh! Selain mendidik mereka agar tidak money oriented, saya juga menanamkan kebiasaan gemar membaca untuk mereka. Lebih irit dan bermanfaat, bukan?


Menumbuhkan Minat Baca

5. Menyisihkan Uang THR untuk Tabungan Haji/Umroh

Siapa sih umat Muslim yang nggak ingin pergi beribadah ke tanah suci? Mumpung dapet uang segepok dari THR, lebih baik uangnya dibagi ke pos-pos tertentu, seperti pos investasi, pos biaya lain-lain (untuk jaga-jaga selama perjalanan mudik), dan tentu saja, pos untuk tabungan haji. Sekarang ada banyak kok, tabungan haji yang setoran pertamanya cukup terjangkau, mulai dari Rp.50.000 hingga Rp.500.000. Silahkan kamu cek sendiri produk tabungan haji yang cocok denganmu di web Cermati ini. Insyaallah, kalau disertai dengan niat baik, sebesar apapun dananya, kita bisa mulai menabung untuk Haji sedari dini.


Nah, itu tadi lima poin Resolusi Lebaran saya kemarin. Tulisan ini disubmit dalam rangka mengikuti Lomba Blog #ResolusiLebaranKuSemoga bermanfaat ya!


Lomba Blog Resolusi Lebaran

0 Kicauan:

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger