Sugeng Tanggap Warsa Ibu!

/ Saturday, July 27, 2013 /

Saya sudah pernah menulis tentang Ayah saya, dua adik super saya: Lila dan Rara, tapi rasanya saya belum banyak menulis tentang Perempuan hebat yang satu ini. Ya, perempuan itu tak lain adalah ibu saya. Rasanya tidak akan pernah cukup segudang kata-kata yang saya akan ungkapkan di bawah ini, untuk menggambarkan betapa besar kasih sayang Beliau pada saya.

Ibu saya adalah orang yang sangat sederhana, tidak banyak menuntut suami, pandai memasak, sayang dan perhatian dengan keluarga, dan tentu saja, menyayangi sesama makhluk hidup lainnya, seperti: tanaman dan hewan. Konon katanya, saking cintanya sama tanaman, Ibu saya sampe pernah bercita-cita sebagai Sarjana Pertanian. Hihi.

Ada satu kejadian yang menggelikan sekaligus menjadi memorial di rumah kami. Jadi..saat itu saya masih SMP. Sepulang sekolah, saya iseng bermain di teras belakang rumah. Entah setan apa yang berhembus di pikiran saya, saya mulai mengusik pot-pot gantung yang ada di halaman. Seketika, pot-pot gantung yang jumlahnya belasan itu jatuh semua! Saya (yang saat itu belum mengganti baju seragam) panik bukan kepalang. Ibu yang panik mendengar suara ribut di teras belakang, langsung berlari dan kaget bukan kepalang ~mendapati semua pot gantungnya jatuh berserakan, dan bahkan beberapa di antaranya pecah. Saya pun dimarahi habis-habisan karena itu. Hingga sekarang, tanaman-tanaman itu tidak lagi bisa tumbuh lebat seperti sebelumnya. Setiap kali Ibu dan saya memandangnya, kami berdua selalu tertawa geli sambil teringat kejadian konyol itu.

Selain menggilai tanaman, Beliau juga sangat menyukai benda kuno dan antik. Saya ingat sekali suatu ketika Ibu mengajak kami sekeluarga berburu lemari dan rusban antik ke pelosok desa. Ketika melihat lemari tersebut, rasanya saya merinding dibuatnya, karena selain kayunya nampak sangat tua, bentuknya pun sudah tidak bagus lagi. "Mungkin lemarinya berhantu ya," begitu pikir saya dan adik-adik saya. Namun, dengan ketelatenan Ibu saya, lemari tersebut pun dibawa ke tukang kayu supaya bisa direkonstruksi menjadi lemari yang sangat indah. Saya kagum dengan kemampuan tersebut. Ibu saya bisa mengenali benda kuno tersebut otentik atau tidak, dan masih menyimpan potensi keindahan atau tidak, hanya dengan sekali lihat saja. Saya sungguh kagum. Mungkin karena Ibu saya suka benda antik, maka Ayah dan Ibu saya bisa cocok sekali. Kebetulan Ayah menyukai mobil dan sepeda motor antik, sementara ibu menyukai perkakas dan meubel antik. Ayah senang memelihara burung dan unggas, sementara ibu senang merawat tanaman. Pasangan yang saling melengkapi. Oh what a lovely couple! :)

Meskipun Ibu bekerja, Beliau tidak pernah melewatkan waktunya untuk bersama kami anak-anaknya. Tinggal di kota kecil membuat pekerjaan Ibu dan Ayah saya tidak begitu menyita waktu dan pikiran. Kami sering berkumpul dan bercanda bersama. Terkadang hal itulah yang membuat saya enggan meninggalkan kota kecil ini. Enggan melewatkan waktu berkumpul bersama Ibu tentunya. Hihi.

Rasa sayang Ibu tidak berhenti sampai situ saja. Meskipun saya sempat terpisah dengan Ibu ketika saya kuliah, Ibu masih sering mengirimi makanan dari Purwokerto. Ibu sangat perhatian. Sayangnya, Ibu saya adalah orang yang pemikir. Ketika ada yang mengganggu perasaannya, Beliau seringkali tidak bisa tidur nyenyak dan lesu. Kami bertiga selalu bilang, "Apapun yang terjadi, Mama masih punya Ica, Lila, dan Rara. Mama jangan khawatir ya." Mungkin sifat pemikir itu sedikit banyak menurun pada saya. Hihi. Tapi, Ibu saya selalu ada di manapun saya membutuhkannya.  Ibu sudah 12 tahun kehilangan Ibunya (Eyang saya), dan selama itulah Beliau tidak ada teman berbagi cerita. Percayalah, saya pun ingin terus mendampingi Ibu. Tapi apa daya, Tuhan menciptakan siklus hidup yang berubah-ubah. Kini saya dan Lila tinggal terpisah dengan Ibu. Menyedihkan sekali rasanya for not being there when she really needs me the most. 

Satu hal yang ingin saya sampaikan sekarang ke Ibu saya adalah, "Ma, apapun yang terjadi, kami bertiga akan selalu akur dan menyayangi Mama. Aku minta maaf ya Ma, karena seringkali menceritakan hal-hal yang membuat Mama khawatir. Aku akan belajar menjadi anak yang lebih baik dari sekarang, nggak pemalas lagi, kalo weekend nggak bangun siang lagi, nggak galau, dan nggak pemikir lagi, supaya Mama nggak sering khawatir sama aku. Aku sayaaang sekali sama Mama."

2 Kicauan:

{ Rahmawan Ady Arif Bijaksana } on: November 5, 2013 at 6:33 AM said...

selamat ulangtahun, Tanteee... semoga sihat selalu pun cantik senantiasa... ammeeeennn.. mwah mwah :*

{ thisisrizka } on: December 20, 2013 at 6:26 PM said...

mamaci kakak Utjil!

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger