Hai Haibati Haira!

/ Monday, November 05, 2012 /

Dulu, saya pernah cerita sedikit tentang adik tertua saya, Kamila, atau sebut saja Lila. Sekarang, sudah saatnya saya cerita tentang adik terkecil sekaligus anak terakhir orangtua saya. Yap, namanya Haibati Haira. Kami biasa memanggilnya Rara. Selisih kami kurang lebih delapan tahun. Dia sekarang duduk di kelas 1 SMA. Hobby dan passionnya sejauh ini adalah fotografi. Dan saya salut karena dengan usia semuda itu, dia sudah tahu akan kemana dan di mana dia dalam lima tahun ke depan.

Kami jarang mengobrol, jarang jalan bareng, tapi kami tahu kami saling sayang satu sama lain. Baik saya, Lila, ataupun Rara, nggak pernah mengalami pertengkaran hebat (dan semoga seterusnya akan seperti itu, Amin). Kata ibu guru kami (yang sedari kami kecil menyaksikan perkembangan awal masa belajar kami bertiga di sekolah dasar yang sama), saya-Lila-Rara adalah tiga anak yang berbeda satu sama lain. Saya dan Rara memiliki beberapa kesamaan, kami sama-sama suka seni. Saya suka menggambar, sementara ia suka menangkap gambar. Namun Rara berbeda, ia istimewa, cerdas, 'bandel' (dalam artian positif), dan pemberani. Selama saya di rumah, tidak sekalipun saya melihatnya belajar atau mengerjakan Pe-Er. Tapi, herannya ia selalu mendapat nilai bagus. Untungnya semenjak masuk SMA, ia berubah. Ia semakin aktif, dan tak lupa, rajin belajar.

Kini Rara bahkan tumbuh lebih besar dari saya. Begitu pula Lila. Jadilah saya anak termungil di keluarga saya. Dan untungnya, itulah yang menjadikan saya seolah-olah menjadi anak 'termuda' di rumah. Sekarang saya dan Lila tinggal satu kostan di Jakarta. Jadilah Rara sendirian di rumah, nun jauh di Jawa Tengah. Perlu lima hingga enam jam untuk pulang ke rumah dan sekedar menyapa Rara secara langsung. Kenapa harus menyapa secara langsung? Karena Rara bukanlah orang yang suka bicara banyak di telfon. Kami bahkan hampir tidak pernah mengobrol, kecuali ada hal yang benar-benar ingin Rara tanyakan atau pamerkan, hahaha. Saya dan Lila hanya mengobrol di telfon dengan Ibu, dan sesekali dengan Ayah. Tapi jarang sekali bercakap-cakap dengan Rara. Meskipun begitu, baik saya dan Lila tahu, Rara paling tidak tahan untuk menangis ketika ditelfon kakak-kakaknya. Ia tidak akan mampu menutupi rasa kangennya ketika mendengar suara kami di seberang telfon. Biasanya, suaranya parau, dan langsung memberikan telfon pada Ibu. Lamat-lamat kami bisa mendengar ia menangis. Dan kami, di seberang sini, ikut menangis karena rindu.

Begitulah.

3 Kicauan:

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger