(masih di) Keraton Kasepuhan Cirebon

/ Sunday, January 01, 2012 /
Hal lain yang nggak terlalu mencuri perhatian tapi rugi kalau dilewatkan adalah: filosofi lantai yang nggak lurus alias sedikit berbelok dari pintu utama ke jalan menuju bangunan Keraton bagian dalam. Kalau dilihat dari sudut pemotretan yang satu ini mungkin nggak kelihatan.


Tapi, kalau dilihat dari sini?


Lebih dekat lagi? 


Jadi, konon, Raja dan para penghuni Keraton lainnya percaya bahwa jalan dari pintu utama menuju bangunan bagian dalam tidak boleh dibangun lurus, agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, 'sesuatu'-nya Syahrini tersebut tidak langsung menuju ke bangunan utama, namun ia justru lurus dan akhirnya luput sasaran *eaa*

Setelah puas berkeliling melihat tembok dan seisi Keraton, tiba-tiba naluri iseng emak saya dan kawan-kawannya pun muncul. Mereka iseng pergi ke belakang Keraton, dan ternyataaa..di bagian belakang Keraton tersebut terdapat galeri tempat dijualnya sedikit batik Cirebonan, furnitur-furnitur kuno sekaligus tempat tinggal keluarga kerajaan.



Menarik sekali, tapi yang lebih menarik lagi adalah: emak saya sempet foto bareng salah satu Ratu-nya langsung. :D

Kok bisa ketemu sama si Ratu sih? Ini karena emak saya yang iseng nanya-nanya harga furnitur. Karena pegawainya nggak tahu harganya berapa, maka salah satu dari mereka berceloteh, "Wah, saya tanyakan sama yang punya langsung aja ya Bu?" Dan..teroret-roreet! Ratu-nya sendiri yang keluar. Cantik dan trendi ya? Tapi emak saya jaman muda juga nggak kalah dong ah!



Setelah foto-foto, kami menuju bursa VW dan membeli beberapa kaus dan kemeja batik VW buatan Pekalongan dan Jogja. Lucu-lucu, meskipun nggak sebanyak yang kami pengen. :P Sepulang dari Keraton, kami ngikut ortu kumpul-kumpul bareng temennya temen Bapak saya *nah loh*. Kami lalu diajak makan seafood yang enaknyaaa bikin ketagihan, terus diajak sholat maghrib di rumahnya. Nah, saat itulah kami mengalami peristiwa mistis yang lucu bin serem kalau diceritain. Ahaha. 
Begini ceritanya. 


Konon, rumah dinas temennya temen Bapak saya ternyata berhantu, dan dua dari ibu-ibu yang ikut rombongan kami bisa 'berkomunikasi' dengan makhluk tersebut. Rupanya, ada tiga makhluk yang tahu kalau tujuan kita berikutnya bakalan balik lagi Keraton. Kebetulan tiga dari mereka juga kepengen ke Keraton, di sana kan ada sumur keramat, jadi ceritanya mereka mau numpang mandi gitu deh. Tapi..karena nggak ada kendaraan, jadi mereka sekalian ngikut di mobil terbesar kami, yaitu ikut duduk manis di dalam VW Kombi. Dua ibu-ibu tadi udah berusaha nyegah, tapi tuh makhluk udah terlanjur masuk.


Sialnya, saya dan adik saya, Rara, lagi 'dilempar' ke mobil VW Kombi karena saat itu mobil yang lain kepenuhan. Dan..tiga makhluk itu dengan cerdasnya memilih naik Kombi yang lebih lega dan lebar. Lebih cerdasnya lagi, salah satu dari mereka memilih duduk di samping saya! Saya pun teriak setelah dikasih tahu kalau ternyata ada tiga makhluk di dalam mobil yang saya dan Rara tumpangi. Walaupun nggak nampak, saya merasa merinding sampai ke ubun-ubun loh! Belum lagi, suasana hotel yang spooky. Jiahaha.


Setelah balik dari rumah tersebut, kami mandi, berberes, dan melaju ke Keraton. Kata si ibu tadi sih, makhluknya udah pergi duluan, abisan kalian mandinya lama. Tau deh bener atau nggaknya. :))


Nah, acara di Keraton Kasepuhan saat malam hari adalah pagelaran tari, free dinner dan jajanan khas Cirebon. Karena insiden kunci mobil yang terkunci di dalam mobil, *entah ada apa di balik semua ini, saya juga nggak tahu, halah* kami pun datang telat dan nggak kebagiaaaan! Huhuhu. Di akhir acara, juga diumumkan siapa-siapa saja juara VW Contest saat itu.


Minggu paginya, kami sempat nyobain nasi jamblang deket Pelabuhan (yang katanya terenak no-2 di Cirebon, namun, maaf, ternyata biasa saja). Ini memang soal lidah dan selera, tapi kok saya lebih memilih nasi rames yang biasa, ketimbang nasi jamblang. Tempatnya sangat sempit dan nggak terlalu bersih, tapi rame banget, sampai kami nyaris nggak kebagian tempat duduk. Kalau masuk pun harus desak-desakkan, lewat jalan terobosan kecil. Jadi, bisa ditebak lah ya, kenapa saya nggak bisa menyertakan foto di sini.


Kami pun pulang ke Purwokerto secara beriringan. Namun naas menimpa mobil kami, yang akhirnya menyebabkan mobil kami harus didorong sampai ke Purwokerto, dan terpaksa turun mesin. 





Untung dia sudah kembali sembuh sekarang. Ini akibat nggak pernah dibawa jauh, begitu katanya. Ternyata bukan hanya semakin sering besi ditempa, semakin kuat ~tapi semakin jauh mobil dipacu, ia jadi semakin tahan banting *salah teori kah saya? Ya sudahlah*

4 Kicauan:

{ naraya narada } on: January 6, 2012 at 8:21 PM said...

yg klasik itu memang bagus

{ thisisrizka } on: January 6, 2012 at 9:40 PM said...

betul sekali itu mas

{ cosmophotoblog } on: February 5, 2012 at 8:15 AM said...

serem chaa

{ thisisrizka } on: February 5, 2012 at 9:22 AM said...

iyaaah..tapi, untunglah aku nggak bisa liat. Cuman merinding aja udah cukup kok. Udah deh, nggak lagi-lagi. Ahaha :P

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger