Facebook Stalking

/ Monday, July 18, 2011 /
-->
Hari gini, siapa sih yang nggak punya akun facebook? Mulai dari anak SD, bapak-bapak, ibu-ibu, sampai kakek-nenek pun banyak yang punya akun facebook. Bahkan, ortu yang lebay pun sampe-sampe ngebuatin akun facebook buat jabang bayinya tersayang. Mereka malahan tanpa malu-malu up date status serta komen-komenan pake akun si jabang bayi –sementara kita sama-sama tahu bahwa si bayi mana mungkin bisa, atau bahkan ngerti apa yang namanya facebook. Berlebihan? Tentu saja. Ngeselin? Buat saya, nggak masalah, asal dia nggak ngeganggu lapak saya. *halah*

Salah satu hal menarik dari facebook adalah, semua orang bisa terhubung satu sama lain, tanpa ada kendala batasan jarak dan waktu. Saya bisa dengan lincahnya loncat dari satu profil ke profil lainnya, dari temen-temen saya satu pulau ke pulau lainnya, satu negara ke negara lainnya, tanpa kena roaming, dan tanpa kena tambahan biaya lainnya (selain biaya internet per bulan, hoho). Awalnya, saya join facebook untuk menjalin tali silahturahmi *tsaaah!* dan menemukan temen-temen lama. Rasanya seneng banget sih, pas nemu akun temen lama yang udah beribu-ribu tahun nggak ketemu. Setelah saling add dan confirm, saya bisa dengan bebasnya menjelajahi wall, photo, dan notes yang dia punya. 
Nah ini dia masalahnya. Tujuan awal saya yang tadinya hanya untuk sekedar melihat, berkomen, dan bertegur sapa, kemudian mengalami peningkatan level menjadi: ‘kegiatan mengintip rutin’. Nah itu dia! Ngintip alias stalking adalah penyakit baru saya saat ini. Dan beruntung, facebook sangat menfasilitasi hobi, ups, penyakit baru saya ini. Selain itu, ngintip yang satu ini terbilang aman, karena belum ada satupun program yang bisa mendeteksi orang-orang yang ngintipin profil facebook kita –beda sama friendster. :P


Normal nggak sih ngintip profil orang? Buat sebagian orang, ngintipin profil orang itu sah-sah aja. Ada beberapa orang yang emang kepingin profilnya diintip orang, misalnya dengan cara up date status setiap saat –layaknya selebriti, ngupload foto-foto mereka ikut perkumpulan ini dan itu, atau bahkan foto narsis mereka sendiri. Jujur saya akui, facebook memang membuat kadar narsis dan rasa ingin tahu saya meningkat tajam (kalian gitu juga nggak sih?). Sebelum saya punya akun jejaring sosial yang satu ini, saya nggak kepengen kegiatan atau kegalauan saya terekspos banyak orang, saya nggak sebegitu betahnya nangkring di depan komputer, nggak sebegitu getolnya berharap dapet notifikasi yang bejibun, dan yang paling parahnya: sebegitu terobsesinya ngintipin profil orang. *bah!* Nah, penyakit buruk ini sering disebut sebagai facebook stalking atau facebook creeping.

Untuk jejaring sosial yang satu ini, kadar kenarsisan saya boleh dibilang nggak terlalu tinggi, hal ini tak lain karena saya misterius, cool, dan calm *hoho*, saya juga nggak terlalu sering mengumbar status dan komen di facebook (kecuali upload gambar tentunya). Tapi yang bikin saya jengah di sini adalah: saya terlalu kepo. Misalnya, waktu dulu saya naksir seseorang, rasanya sehari nggak ngintip profil si dia tuh rasanya sesak nafas, kayak sehari nggak makan nasi, kayak sayur kurang garem, dan berbagai perumpamaan penuh penderitaan lainnya. Saat ini, sebagai seorang pengusaha alias wiraswasta (lihat postingan ini), waktu luang saya semakin banyak, dan sekali lagi, menumbuhkan minat saya mengembangkan hobi tidak bermanfaat saya ini. Kenapa saya bilang nggak bermanfaat? Setelah melalui berbagai riset dan introspeksi diri, akhirnya ditemukan dua hal berikut:
·         Pertama, ngintipin profil orang itu: nggak ada manfaatnya kalau tujuan kita cuman ngebanding-bandingin diri sendiri sama orang lain.
Misalnya, jaman  saya masih nyusun skripsi, hati saya panas sekali setiap ngeliat temen lain udah lulus dan ngupload foto-foto wisudanya. Ada beberapa yang update status mereka menjadi : ”Alhamdulillah, akhirnya saya lulus!” dan serentetan status serupa lainnya. Buat saya sih, nggak masalah kalau mereka pengen ngungkapin perasaan senang mereka pasca sidang/wisuda lewat facebook. Tapi ternyata hati kecil saya nggak bisa bohong, setelah membaca dan melihat profil mereka, saya jadi gundah dan gelisah memikirkan nasib skripsi saya sendiri. Nah begitu ceritanya kalau posisi saya di bawah, sebaliknya ketika posisi saya sedang di atas, saya seolah balas dendam dengan mengumbar-umbar kebahagiaan di atas ‘penderitaan’ teman-teman saya yang masih berjuang nyelesein skripsi. Singkatnya: ajang pamer.

·         Kedua dan terakhir, ngintipin profil orang itu: nggak ada bagusnya kalau pada akhirnya menimbulkan iri.
Nyambung sama yang tadi, gara-gara temen yang kita intip tadi ternyata sudah diterima kerja di perusahaan bonafit, foto profilnya memajang mobil barunya, atau sudah dilamar oleh pacarnya (sementara keadaan kita sebaliknya, pengangguran, nggak punya mobil, dan jomblo), kita bukannya ikut senang atas pencapaian dia, eeh malah jadi iri-irian. Iri boleh saja, tapi jangan berlebihan. Iri itu bagus kalau bisa mendorong kita lebih semangat dan rajin berusaha. Tapi sebaliknya, kalau berawal dari rasa iri itu, kita malah bikin gosip atau fitnah kayak: “Wajarlah si anu bisa kerja di perusahaan itu, kan bokapnya kerja di sono!” dan berbagai gosip menyedihkan lainnya. Ngegosipin hal-hal semacam itu justru ngebikin kita terlihat menyedihkan di mata orang. That’s so pathetic.

Jadi kalau ada yang nanya kenapa wall facebook saya sekarang udah ditutup (lagi), saya nggak ngeblock kalian kok, salah satu alasannya adalah: karena saya nggak ingin diintip –dan tentu saja, saya ingin mengurangi ‘kegiatan mengintip rutin’ saya. Mata saya udah bintitan nih soalnya.

Quote kita hari ini adalah:
Most of us only open facebook to see whether there's any events we aren't invited/included. 

5 Kicauan:

{ rikfi } on: July 18, 2011 at 10:52 PM said...

hahaha!! ternyata bukan aku aja yah yang UPDATE semua dari Fb, kamu juga! iyah bener sie ca, kita bisa liat apapun dari Fb ataupun twitter. kecepatan gosip dan beritanya lebih cepat dari apapun. semua kegalauan, kesenangan kebahagian tercatat dan terekam dengan baik hehe!!

Dari social network, kita bisa tahu perkembangan si X yang kita liat profilnya. Gambar dan kata-kata menunjukan banyak hal :)

Meliat profil orang, kadang2 bisa berujung pada rasa kagum dan akhirnya sirik. dan diakhir dengan kata-kata WAH keren, pengen deh gwa kaya dia :( huehe!! Aku banget.

tapi ada untungnya juga sie cha, sisi positifnya, klo kita liat profil orang, kita jadi punya perbandingan dan punya pemacu bahwa kita harus lebih baik. tapi jangan keseringan juga ngeliat profil orang karena jatuhnya t akan menghabiskan banyak waktu yang terbuang percuma.

btw, I stalk people on social network just people that I think, (S)he is important to be known huehe!!

{ Ung } on: July 18, 2011 at 11:55 PM said...

Hahahahahahahahahaha... jadi refleksi diri sendiri gini.

Sepertinya saya harus mulai mengurangi aktifitas mengintip dan beralih membajak akun facebook seseorang hahahaha..

{ thisisrizka } on: July 19, 2011 at 7:46 PM said...

@Rikfi: bener! Aku juga stalkingnya milih-milih kok Fi. :P

@Kang Ung: ahahaha, sok kalau bisa! asal jangan bajak akun saya.

{ agungsmail } on: July 19, 2011 at 11:24 PM said...

mau bajak hati kamu aja lah... PReeeeet....

{ thisisrizka } on: July 20, 2011 at 12:05 AM said...

bwahaha. Cari ladang lain yang masih kosong aja Kang. Nanti tukang bajak saya ngambek. Ahaha.. *preet juga

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger