Wisata Nekaat!

/ Monday, August 02, 2010 /
Kamu bilang kami gila, silahkan. 
Kamu bilang kami nekat, silahkan. 
Kamu bilang kami kurang kerjaan, silahkan. 

Aiih, kenapa tiba-tiba menye-menye begini? Ahaha, cerita ini dimulai dari Undangan Pernikahan seorang alumni kostan kami, bernama Silfia Pratiwi. Doski (halah, bahasanya jadul pisan) dan aa-nya nikahan tanggal 1 Agustus kemarin di Pasirjambu, Ciwidey. Sebenernya, saya baru balik dari Jakarta hari sabtu malam, tapi karena saya bertekad saya harus datang ke nikahan Teh Silfi, saya bela-belain pulang naik Primajasa sendirian -sambil menanggung derita manusia yang gampang masuk angin.. *lebay ah*

Jadi, karena kami pikir hari itu hari Minggu, dan kata teman-teman saya Ciwidey pasti macet, saya, Mba Nita, dan Puput pun memutuskan untuk berangkat dari lokasi pagi-pagi. Saya dan Mba Nita naik Damri Elang dari Jatinangor dan turun di Leuwi Panjang pukul 08.00. Puput udah ada di Leuwi Panjang, dan kami pun bergegas ke Ciwidey naik Elf jurusan Ciwidey *yaiyalah!* seharga Rp.4.000. Perjalanan kami ternyata nggak lama, karena di sana nggak macet! Antara kaget dan seneng, kami pun turun di depan Polsek Pasirjambu pukul 10.00 -satu jam sebelum acara resepsi dimulai. Waduh, ternyata kami dateng terlalu pagi! Karena nggak mau dianggap terlalu on time, kami pun nongkrong di Indomaret sambil makan snack-snack penuh vetsin. Setelah puas mengulur waktu, kami pun turun ke lokasi dengan berjalan kaki! (tolong jangan pasang muka heran atau terkagum-kagum, kami bertiga memang perempuan perkasa yang kuat berjalan jauh) *halah!* Karena jaraknya yang lumayan jauh, orang-orang biasa menempuh perjalanan dengan naik ojek. Tapiiii..kami? Kami memilih jalan kaki, supaya bisa nyampe lokasi pukul 11 lewat, hahaha.. >,<

Setelah sampai ke lokasi pernikahan, bersalaman sama mempelai, makan gratis, ngambil souvenir, dan foto-foto, kami pun pamit pulang. Ealah, dasar kurang kerjaan, kami bertiga pun tergiur buat mampir ke Kawah Putih dan Situ Patenggan! *ah, lagi-lagi saya terprovokasi sama Kang Ung* Karena jaraknya yang nggak jauh, kami pun dengan ringannya menjejakkan kaki menuju angkot kuning jurusan Ciwidey-Patenggan. Ah, ada beberapa kejadian tidak menyenangkan dengan si sopir (yang kalau diinget bikin saya pengen muntah di depan mukanya) jadi...marilah kita ceritakan yang seneng-senengnya aja! :D

Sesampainya di Kawah Putih, kami pun membeli tiket masuk. Oh ya, kalau kalian ke Kawah Putih, saran saya, jangan pernah nanya lokasi Kawah Putih sama sopir angkot! Soalnya, sopir angkot biasanya menawarkan kendaraannya buat disewa ke Kawah Putih seharga setidanya Rp.105.000 -dengan alasan: "Di atas bakalan susah dapet kendaraan loh teh! Tiket masuknya Rp.15.000an, dan itu belum termasuk kendaraan. Kendaraan di sana harganya Rp. 35.000, jauh lebih mahal ketimbang nyewa angkot saya." Jika kamu sepakat sama si sopir angkot, niscaya kamu tertipu mentah-mentah! Soalnya tiket masuk ke sana harganya Rp. 20.000 dan itu udah termasuk kendaraan angkutan ke atas. Kalau si sopir bilang macem-macem, percayalah, itu nggak bener! Angkutan ini  gampang dicari, dan jumlahnya banyak. Oh ya, angkutan ini punya nama yang unik: Ontang-Anting. Hihihi, tadinya saya pikir ini wahana baru di Kawah Putih (sejenis yang di Dufan gitu), ealah, ternyata angkutan ini berwujud mobil suzuki biasa.. *kecewa*

 Saya dan Mba Nita di atas Ontang-Anting, swiitswiiiww!

Saya, Mba Nita, dan Puput riang bukan kepalang, soalnya udara di sana dingin dan sepoi-sepoi! Kami sempet kesulitan foto bertiga, tapi seorang teteh dan aa yang baik hati mau ngefoto kami bertiga. Bahkan, setelah ngefoto kita, teteh tadi minta kita berfoto buat disimpen di hape dia..(buat kenang-kenangan meureun). Sayangnya, karena kami nggak kepikiran kalau bakalan mampir ke tempat wisata, kami nggak ada yang bawa kamera digital. Jadi, kami pun sibuk berfoto menggunakan kamera hape. Ini salah satu foto kami di sana:
Mba Nita dan Puput berpose di Kawah Putih, dunia asa milik berdua euy.. *halah*

Sepulangnya dari Kawah Putih, kami melongok ke jam pasing-masing, "Aaah tidaak! Udah jam 4 soree!" Meskipun udah sore, dan kami tahu kalau angkot kuningnya cuman sampe jam 5 sore lewat dikit, kami bertiga nekat melanjutkan perjalanan ke Situ Patenggan. Sebelum ke Situ Patenggan, kami sempet beli jagung bakar seharga Rp.5000 -sementara di Jatinangor Rp. 2.500 juga udah dapet..wekeke.. Sampai saat itu, kami nggak menyadari bahwa sebuah bencana vital akan menimpa kami bertiga.. *lebay*

Untuk mencapai Situ Patenggan, kami cukup naik angkot yang sama (angkot kuning, apa lagi?) dengan membayar Rp. 3.000. Beruntung, di tengah perjalanan, si angkot berhenti menurunkan muatan penumpangnya yang ngebawa bambu banyak banget. Naluri narsis kami pun muncul, kami minta izin ke sopir untuk foto-foto di kebun teh selagi ia masih sibuk menurunkan muatan. Yihaaaa, inilah foto-foto kami di sana:
Saya dan Puput di kebun teh


Mba Nita dan Puput 

Setelah berfoto di kebun teh, kami terpaksa kembali naik ke angkot (karena pak sopir udah manggil-manggil dari kejauhan..hehehe) >,<  Nggak nyampe 45 menit, kami udah nyampe ke Situ Patenggan. Tiket masuk kami cuman Rp.6.000 per orang. Sesampainya di sana, tanpa ba-bi-bu lagi, kami langsung naik ke perahu sewaan buat nyeberang ke Batu Cinta. Untuk naik ke Perahu, kami membayar Rp.15.000 per orang -nggak perduli penuh atau sepi, tarifnya segitu. Perahu kami cuman berisi 7 orang: saya, Mba Nita, Puput, dan dua pasangan penuh cinta yang selama perjalanan dengan enaknya main peluk-pelukan di depan tiga perempuan manis dan lugu ini.. *halah*

Aiih, suasana di Situ Patenggan ini mirip banget sama di Bedugul. Udaranya, danaunya, anginnya, aaiih.. kami bertiga puas sekali deh kemarin!

 Saya dan Puput di atas perahu

Seharusnya, kami datang ke Batu Cinta ini bersama pasangan kami (pasangan berbeda jenis loh ya!), tapi berhubung kondisi yang mendesak, kami bertiga pun menuju Batu Cinta sambil terus komat-kamit (sibuk berdoa) agar nggak ada salah satu di antara kami yang saling jatuh cinta..wekekeke.. :P 

Ini foto kami bertiga di Batu Cinta tadi: 



Dan akhirnya, saat kami belum selesai memuaskan hasrat berfoto kami, hape saya mati karena baterenya lemah. Hape Puput dan Mba Nita juga  sebentar lagi mengalami hal yang sama. Tidaaak! Kami masih cukup tenang, sampai akhirnya kami menyadari kondisi dompet yang makin kempis. Saya bahkan cuman punya Rp. 40.000 saja! (itu belum dikurangi ongkos naik perahu loh ya.. :P)

Setelah menyadari kondisi kami yang sangat gawat waktu itu (tak ada uang, hape mati, khawatir nggak ada transport buat balik ke Cibeureum), kami meminta saran sama Kang Ung. Ternyata, di sekitar sana nggak ada ATM sama sekali. Salah seorang pedagang malah senyum sendiri pas kami nanyain ada ATM atau nggak, "Neng, neng.. di sini teh hutan semua.. mana ada ATM?"

Beruntung, dengan keterbatasan uang yang kami punya, kami masih bisa nyampe ke Cibeureum dan naik Elf menuju Leuwi Panjang dengan selamat..dengan kondisi keuangan sangat ngepas, kami pun ngambil uang di ATM Leuwi Panjang. Oh ya buat informasi, nggak ada ATM di sekitar Kawah Putih atau Situ Patenggan. Jadi, kalau kalian mau piknik kesana, pastikan kamu bawa uang lebih! kalau kalian masih selamat sampai Soreang, jangan khawatir, di sana ada ATM BRI, sementara di deket alun-alun ada ATM BNI. Ah, jangan tanyakan saya kalau ATM yang kamu pakai bukan dari dua Bank di atas.

Akhirnya, kami sampai di Jatinangor juga dengan selamat pada pukul 09.00 malam. Saya senang, Puput riang, Mba Nita gembira -tapi masing-masing dari kami terus berharap kalau kami nggak akan saling jatuh cinta gara-gara  kunjungan ke Batu Ce-I-eN-Te-A. Wekekeke.. >,<

Photobucket

0 Kicauan:

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger