antara hidup dan mati: bertahan atau...?

/ Saturday, August 14, 2010 /


Melihat film ini, saya jadi ingat pada Eyang (Jiddah) saya, Beliau meninggal tanggal 7 April 2001, menyusul Jiddi (kakek) saya yang sudah meninggal lebih dulu. Saya sedih, karena di saat-saat terakhirnya, saya nggak ada di sisi Beliau -bahkan di malam terakhir Beliau. Esok paginya, Eyang sudah berpulang, dan jenazahnya tiba di rumah hanya setelah 2-3 hari dirawat di rumah sakit. Parahnya, saya belum sekalipun menjenguk Beliau. Alasannya? "Aku mau belajar Mah...," alih-alih saya takut ke rumah sakit. Ya, saya nggak pernah suka rumah sakit. Rumah sakit adalah tempat terakhir yang bakalan saya kunjungi dalam daftar hidup saya. Kenapa? Rumah sakit adalah tempatnya orang sakit -kecuali Rumah Sakit Bersalin ya... Dan saya nggak ingin siapapun, keluarga saya, teman saya, atau siapapun yang saya kenal, masuk rumah sakit. Saya ingin mereka sehat. Ah, harap maklum, saya masih SMP kelas satu waktu itu. Saya terlalu penakut (meskipun sampai sekarang saya tetap penakut sih). Dan saya menyesali kebodohan saya ini.

Saat itu, kami sekeluarga masih belum siap kehilangan Beliau. Saya sayang Eyang, sayang sekali, meskipun sebelumnya saya dan Beliau sering bertengkar gara-gara saya yang bandel dan susah dinasehati. Saya sering berharap, suatu saat, saya bisa kembali ke masa lalu, di mana saya bisa memperbaiki kesalahan saya pada Eyang.

Sehari, dua hari, Ibu saya masih sering menangis. Meskipun begitu, Ibu saya intens mengaji dan mengirim doa buat Eyang. Sehari, dua hari, kami masih belum ikhlas. Tapi...seminggu setelahnya, semua terasa wajar -meskipun suasana rumah tanpa Eyang serasa bagai mimpi. Kami masih tak percaya Eyang sudah pergi. Namun, apalah daya saya? Saya cuman manusia. Saya nggak bisa menolak takdir yang ditetapkan Tuhan. Siapa yang tahu Eyang dipanggil secepat itu? Bahkan ketika Beliau belum sempat melihat saya berganti seragam SMA? Ya, kami nggak bisa ngapa-ngapain. Mungkin kematian adalah salah satu misteri yang sampai kapan pun nggak akan pernah mampu kita pecahkan.

Saya yakin, Eyang sudah ditunggu Jiddi di sana. Saya cuman pengen bilang, "Eyang, aku kangen sama Eyang.. Semoga Eyang baik-baik di sana ya.."

Jadi marilah, mencoba mengikhlaskan kepergian orang-orang tercinta kita. Tuhan pasti punya rencana lain dibalik semua ini. Mari  bangkit, mari tersenyum, dan maknai setiap detik kehidupan yang kita miliki.
Photobucket

0 Kicauan:

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger