Bagaimana jika...kamu tertipu?

/ Sunday, July 04, 2010 /
Sempet kepikiran nggak sih, bagaimana jika kita dilahirkan di tempat yang berbeda?
Bagaimana jika kita nggak seberuntung diri kita sekarang?
Bagaimana jika kalian melihat orang-orang yang membutuhkan pertolongan?
Bagaimana jika.. 

Ah sudahlah, saya nggak bisa berfilsafat seperti itu. Karena sekali lagi, otak saya (yang besarnya nggak melebihi bola bekel) ini nggak kompatibel sama sekali untuk aktivitas  berpikir yang berlebihan.. *halah

Jadi, kenapa pagi ini tiba-tiba saya berpikir akan: bagaimana jika? Kalau boleh jujur, satu-satunya hal yang saya pikirkan hari ini adalah: bagaimana jika suatu saat nanti, dunia penuh dengan kebohongan? (aduh Ca, nggak usah ribet-ribet deh bahasanya, wekeke). 

Oke, langsung aja ya.. Ide buat ngepost hal ini berawal dari obrolan Lola, Aini, dan saya tentang seorang pengemis yang demen melancarkan aksinya di Damri DU-Jatinangor non-ac (ya iyalah Damri ac mana ada pengemisnya?). Eits, jangan salah teman-teman, baru-baru ini saya bahkan mengalami sendiri bahwa pengemispun bisa 'lolos sensor' di Damri ac. Ya, buat kalian yang mobilitasnya sangat didukung penuh sama moda transportasi ini, pasti nggak asing lagi kalau bus Damri emang kerap kali dinaiiki oleh pengamen, pengemis, orang-orang minta sumbangan, dan bahkan pemain drama sekalipun! (pemain drama Ca? nggak salah?). 

Kejadian pertama, saya alami waktu saya naik Damri DU-Jatinangor non-ac. Waktu itu hari minggu, saya inget banget, soalnya banyak ibu-ibu yang naik Damri sambil kerepotan bawa belanjaan dari Gasibu. Waktu itu bus yang saya tumpangi cukup padat penumpang. Oknum kali ini, kita sebut saja, Mawar (bukan nama sebenarnya). Saya nggak tahu si Mawar satu ini naik darimana, tiba-tiba aja, dia udah naik dan 'memulai petunjukan dramanya'. Potongan rambutnya agak pendek kemerahan, dan kulitnya agak kecoklatan terbakar matahari. Pertama kali si Mawar masuk, bulu kuduk saya merinding (lebay ah), saya pikir, "Kok ada orang gila bisa masuk Damri dengan gampangnya sih?" Bayangkan saja, dia menggunakan daster warna oranye lusuh, saya nggak tahu dia pakai alas kaki atau nggak, tapi sepanjang narasinya tentang betapa-menderitanya-hidup-terlantar, dia setengah mengangkat dasternya. Saya bahkan bisa melihat sebagian paha bawahnya terekspos, dan..ehm, sebuah celana  dobelan pendek. Kalimat pertamanya dimulai dengan tangisan, kemudian, bisa ditebak, kalimat berikutnya meluncur begitu saja dengan alamiah, "Terserah, orang mau bilang saya gila, mau bilang saya pelac*r, mau bilang saya nggak waras,  saya nggak perduli.. (sambil terus nangis, saya lupa lanjutan kata-katanya apa lagi)...nenek saya sakit keras, adik saya belum makan dari pagi..bla bla bla.." Wow, gila! Mawar berhasil membuat ibu-ibu se-Damri terkesima!  Seorang ibu bahkan memberikan sekotak makanan yang ada di pangkuannya kepada Mawar! Yah, seperti biasa, si Mawar menye-menye, "Terimakasih ibu, tapi saya juga butuh uang untuk membiayai nenek saya yang sakit keras.." Alhasil, banyak penumpang yang iba. Kejadian berikutnya bisa ditebak, sebagian besar penumpang memberikan uang (sedikitnya) masing-masing seribu rupiah! Saya bahkan ngeliat, dia sampe kesulitan turun dari bus karena tangannya penuh bawa kantung makanan! Aah, kalau saja ada piala Oscar ketegori tipu-menipu, saya yakin dia pasti juaranya!
 
Minggu berikutnya, saya ketemu lagi si Mawar -tentu saja dengan cerita yang berbeda. Masih banyak orang yang tertipu oleh aktingnya, tapi untungnya saya nggak. Setidaknya saya sempet ketemu dia tiga kali dalam Damri, dan percaya atau tidak, akting dia masih laku! Ya, kejadian itu emang udah satu tahun lalu, jadi...saya pikir, kemungkinan saya untuk bertemu dengan Mawar akan kecil sekali. Temen saya juga nggak pernah ngelihat dia lagi. Yaa..alhamdulillah lah. Kali aja dia udah alih profesi. Jadi pemain sinetron atau reality show, mungkin?

Nah, itu kejadian di Damri non-ac yaaa.. Sekali lagi, saya bilang kejadian tadi wajar. Laluuu...gimana kalau kejadian ini terjadi di Damri ac? 

Dua minggu lalu saya naik Damri DU-Jatinangor ac sama Wida temen saya. Pas di Jatinangor, dari depan Alfa (kalau nggak salah) naiklah seorang nenek tua renta sendirian -tanpa bantuan siapapun. Selama perjalanan di bus itu, Wida dan saya ngobrol, kami berdua nggak menyadari sepenuhnya kehadiran si nenek tadi -sampai si nenek tadi akhirnya terbatuk-batuk tiada henti *halah!* Sepanjang jalan, nenek tua tadi batuk dan terlihat sangat kelelahan. Dia sempet nanya ke Wida, benarkah bus yang dia tumpangi itu bus DU-Jatinangor. Dia berulang kali menanyakan untuk memastikan apakah bus ini lewat gedung Sate atau nggak. Saya nggak begitu memperhatikan dialog  Wida dan nenek tadi. Tapi, sepantauan saya, nenek tadi berbahasa sunda dan sepertinya nggak bisa bahasa Indonesia. Wuih, kami berdua agak kesulitan, soalnya selain pake bahasa sunda, suara nenek tadi juga liriiiih banget. Jauh sebelum kondektur bus (yang waktu itu merangkap sebagai sopir) hendak menagih ongkos, nenek tadi (berlagak) mengeluarkan beberapa lembaran uang seribuan untuk membayar ongkos Damri. Wida, memperhatikan gelagat nenek tadi, "Kayaknya uangnya kurang dari empatribulimaratus deh Ca, dibayarin aja apa ya?" Saya tanpa pikir panjang langsung mengiyakan usulan teman saya tadi. Yah, siapa yang tahu kalau nenek itu emang nggak punya uang kan? Lagian kami berdua berpikir, kok tega-teganya ya ngebiarin nenek-nenek sendirian ke Bandung tanpa ditemani? Mana nggak bisa bahasa Indonesia, suaranya lirih, sakit-sakitan pula.

Oke...semuanya berjalan dengan lancar, sampai akhirnya sang sopir memberhentikan busnya dan mulai menagih ongkos bus satu-per-satu. Wida pun membayari ongkos si nenek tadi.  Kami berdua kaget dong, tiba-tiba, tanpa tedeng aling-aling, si sopir (yang merangkap jadi kondektur) langsung berkomentar sinis, "Ngapain dibayarin teh, orang ini mah biasa begini.. (tapi sambil tetep nerima uang dari temen saya itu)" 

Kami berdua ternganga, takjub, heran, terpana, shock (cukup, cukup, jangan lebay deh), karena tiba-tiba si nenek tadi berkata setengah berteriak, "Ngomong apa dia tadi?", sambil menunjuk ke arah kondektur yang udah mulai nagihin penumpang di belakang kami. Saya nyaris lompat dari tempat duduk (nggak juga sih) sambil bergumam, "Laah itu bisa ngomong bahasa Indonesia? Lancar dan suaranya keras pula!" Wida cuman bisa ngejelasin dan membelokkan topik pembicaraan, "Iya bu, nanti dikasih tahu kalau udah nyampe gedung Sate.." Wah bisa berabe nih kalau ada pertandingan judo antara sopir dan nenek di dalam Damri.. Ealah, tak kusangka, tak kuduga, si nenek malah berbalik menjelaskan pada kami jalan-jalan di sekitar gedung Sate. Dia bahkan lebih paham lokasi dan nama-nama jalan sekitar gedung Sate ketimbang kami! "Ya ampun, ternyata bener kata pak sopir ya, Wid..." bisik saya pada Wida ketika si nenek sudah turun. Pak sopir pun melanjutkan kisah singkat mengenai rutiinitas si nenek yang setiap hari berangkat sekitar jam 9-an dan pulang sekitar jam 2 siang. Kalau ditangkap dari cerita pak sopir, si nenek ngemis di sekitar gedung Sate kali yaa..

Nah, kalau sekarang makin susah ngebedain mana orang yang bener-bener butuh pertolongan, dan mana yang cuman penipu ulung, gimana nasib orang-orang yang bener-bener ketimpa musibah? Aaah, saya jadi ragu nih kalau mau ngasih ke pengemis..

Oh ya, ini ada sebuah film pendek yang lucu (nyambung juga sih sama postingan kali ini), janganlah kalian tertipu oleh nenek-nenek!

Photobucket

10 Kicauan:

{ Ung } on: July 4, 2010 at 8:45 PM said...

Jika aku tertipu....

Terima kasih sudah menipu saya..

{ Rizka Amalia (Ica) } on: July 5, 2010 at 1:37 AM said...

hehehe.. masih ngambek nih kang?
kan kemarin itu Juli mop.. *ngasal

:P

{ Ung } on: July 5, 2010 at 7:12 AM said...

sedikit... ya sebesar biji zarah mungkin..

{ agungsmail } on: July 5, 2010 at 7:29 AM said...

filmnya bagus

{ Rizka Amalia (Ica) } on: July 5, 2010 at 10:49 AM said...

aah cuman sekecil itu kan? syukurlah.. wekeke

jah, aku juga geli liat filmnya. :P

{ kolomkiri } on: July 6, 2010 at 1:12 AM said...

maka dari itu kita harus selalu waspada dan selalu merapat...

{ adiwena } on: July 7, 2010 at 1:57 AM said...

kenapa nggak ngecek facebook nenek itu dulu sebelum dibantu?

{ Rizka Amalia (Ica) } on: July 7, 2010 at 5:11 AM said...

@mas ulil: wah mimpi apa saya semalem, blog saya dikunjungi mas ulil? makasih mas atas kunjungannya ^,^

merapat apa itu mas? saya nggak paham.. hehehe

@kang wirya: hehe, kami dan si nenek nggak punya bb sih kang, kalau punya sih pasti kita udah saling bertukar alamat facebook. hehehe :P

{ ratu rikfi } on: July 8, 2010 at 11:19 AM said...

icha, itu nenek tua yang renta banget sie. yang pake kebaya tapi agak rombeng (maaf). klo iyah aku juga suka liat dia bukan sie?

{ Rizka Amalia (Ica) } on: July 8, 2010 at 10:56 PM said...

waah, jangan-jangan Fi, dia nggak minta2 sih sebenernya, tp akting 'pura-pura-sakit-dan-lemah-nggak-bertenaganya' itu loh yg nyebelin. kalau si nenek kmrn mah bajunya kebayaan tp gak rombeng Fi.. (atau mungkin udah ganti kostum?), hehehe..

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger