Sudah berakhirkah apartheid?

/ Friday, June 11, 2010 /

Yah, World Cup South Africa 2010 adalah fenomena yang menggemparkan sekaligus menyenangkan semua warga Afrika (terutama warga Afrika Selatan, tentunya). Saya bukan penyuka sepak bola, saya juga nggak sering nonton bola kecuali kalau World Cup. Itupun saya cuman ikutan nonton, nggak tahu-menahu soal si anu main di klub X, si itu main di klub Y, si ini pemain yang bayarannya paling mahal lah, bla bla bla.. Intinya, saya nonton karena saya pengen liat gimana opening ceremonynya. Ealah, pas nonton, ternyata upacaranya kepotong-potong dan kebanyakan performance dari band-band (yang saya nggak tahu namanya apa aja). Bukannya saya meremehkan, cuman kok rasanya aneh aja ya, buat saya, band-band kayak gitu udah cukup banyak tampil di Dahsyat dan acara-acara sejenis. Jadi, mbok yo opening ceremony ini jangan dipotong sama performance mereka lagi dong.. Saya kan penasaran gimana acara di Afsel sanaa..
Ngobrol-ngobrol soal Afrika, saya jadi inget tentang apartheid. Apa itu? Apartheid adalah kebijakan pemisahan ras –di mana ras yang dianggap lebih baik selalu ditempatkan pada posisi yang diuntungkan, sementara ras yang dianggap lebih buruk ditempatkan pada posisi yang dirugikan, diremehkan, dan direndahkan. Apartheid ini sempat dilegalkan di Afrika Selatan, namun kini apartheid di sana sudah dihapuskan.
Politik apartheid ini secara langsung telah merampas hak asasi manusia untuk memiliki kedudukan yang setara, menikmati segala fasilitas yang sama, menentukan hidup mereka sendiri –seperti manusia yang lain. Apartheid telah melarang partisipasi ras kulit hitam dan berwarna dalam pemerintahan, membatasi mereka untuk tinggal di suatu wilayah, menentukan pekerjaan apa yang layak untuk mereka, dan sebagainya. Bukankah ini merupakan bentuk diskriminasi terhadap hak asasi mereka?
Untuk lebih jelasnya, terlebih dahulu kita akan membahas keterkaitan antara apartheid dan hak asasi manusia. Terdapat beragam pengertian hak asasi manusia, salah satunya terdapat dalam buku W. Raymond Duncan. Duncan menyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak yang sangat mendasar dan dimiliki oleh setiap individu di dunia. Hak-hak ini di antaranya adalah kebebasan politik, hak-hak ekonomi (seperti hak untuk bekerja dan hak untuk meluangkan waktu/beristirahat). Namun, hak-hak perempuan tidak dimasukkan sebagai hak asasi manusia. Hak-hak asasi manusia yang disepakati oleh negara-negara di dunia dapat kita temukan dalam United Nation’s Declaration of Human Rights, yang diterapkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1948.[1]

SEJARAH GERAKAN MELAWAN APARTHEID DI AFRIKA SELATAN

Martin Luther King, Jr. (1929-1968), seorang pendeta Amerika dan pemenang Nobel, adalah salah satu pemimpin prinsipil gerakan hak-hak sipil Amerika –ia juga merupakan pendukung terkemuka protes anti-kekerasan. Perjuangan King terhadap pemisahan dan diskriminasi ras pada tahun 1950an dan 1960an telah membantu meyakinkan banyak warga Amerika kulit putih untuk mendukung hak-hak sipil di Amerika. Setelah pembunuhannya pada tahun 1968, King menjadi simbol perlawanan demi keadilan ras.[2]
Apartheid adalah kebijakan pemisahan ras –kebijakan ini pertama-tama diikuti oleh Afrika Selatan. Kata apartheid berarti “separateness” atau pemisahan dalam bahasa Afrika. Kata ini menggambarkan pemisahan ras yang nyata antara pemimpin kulit putih (yang minoritas) dan populasi kulit hitam (yang mayoritas). National Party memperkenalkan apartheid sebagai bagian dari kampanye mereka pada pemilu tahun 1948, dan dengan kemenangan National Party, apartheid menjadi kebijakan politik yang memimpin bagi Afrika Selatan hingga awal tahun 1990an. Meskipun tidak ada dasar-dasar yang legal bagi apartheid, ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik antara kulit putih dan kulit hitam di Afrika Selatan tetap ada.
Hukum apartheid mengklasifikasikan manusia menjadi tiga kelompok ras utama: kulit putih, Afrika kulit hitam (Bantu), dan kulit berwarna (orang dengan keturunan campuran). Kemudian, orang Asia, atau India dan Pakistan, ditambahkan ke dalam kategori keempat. Hukum ini menentukan di mana anggota tiap kelompok dapat tinggal, pekerjaan apa yang dapat mereka lakukan, dan jenis pendidikan apa yang boleh mereka peroleh. Hukum ini juga melarang hampir semua kontak sosial antar ras, fasilitas publik, dan menolak perwakilan non-kulit putih dalam pemerintahan. Orang yang secara terbuka menolak apartheid akan dituduh sebagai komunis dan pemerintah menetapkan legislasi keamanan yang amat ketat –sehingga mengubah Afrika Selatan menjadi negara polisi.
Sebelum apartheid menjadi kebijakan resmi, Afrika Selatan memiliki sejarah panjang perjuangan ras dan supremasi kulit putih. Pada tahun 1910 keanggotaan parlemen terbatas hanya bagi kulit putih, dan legislasi tahun 1913 bahkan melarang kepemilikan tanah kulit hitam menjadi hanya 13% dari total wilayah Afrika Selatan. Banyak rakyat Afrika menentangnya. Pada tahun 1912, African National Congress (ANC) terbentuk untuk melawan kebijakan pemerintah yang tidak adil ini. Pada tahun 1950an, setelah apartheid menjadi kebijakan resmi, ANC mendeklarasikan bahwa “Afrika Selatan adalah milik semua orang yang tinggal di dalamnya, kulit hitam, dan kulit putih,” dan berjuang untuk menghapuskan apartheid. Setelah kekacauan anti-apartheid di Sharpeville pada bulan Maret 1960, pemerintah melarang semua organisasi politik warga Afrika kulit hitam, termasuk ANC.
Dari tahun 1960 hingga pertengahan tahun 1970an, pemerintah berusaha membentuk kebijakan apartheid “separate development.” Kulit hitam diberikan tanah air mereka sendiri yang baru dan miskin, yang disebut Bantustans,yang dibentuk untuk  menjadi negara berdaulat yang diremehkan. Populasi kulit putih memiliki kendali lebih dari 80% tanah. Meningkatnya kejahatan, serangan, boikot, dan demonstrasi oleh para penentang apartheid, serta dijungkirkannya aturan kolonial oleh rakyat kulit hitam di Mozambik dan Angola, memaksa pemerintah untuk melonggarkan beberapa larangan mereka.
Sejak pertengahan tahun 1970an hingga pertengahan 1980an, pemerintah mengimplementasikan beberapa reformasi yang memperbolehkan pekerja kulit hitam untuk berorganisasi dan mengijinkan beberapa aktivitas politik dari oposisi mereka. Konstitusi tahun 1984 membuka keanggotaan parlemen bagi warga Asia dan kulit berwarna, namun tetap saja tidak memberikan kesempatan bagi warga kulit hitam –yang menjadi 75% populasi. Apartheid kemudian dikritisi secara internasional, dan banyak negara –termasuk Amerika Serikat– memberikan sanksi ekonomi bagi Afrika Selatan. Revolusi urban kian marak terjadi, dan karena kian intensifnya tekanan eksternal, kebijakan apartheid pemerintahpun terhenti. Pada tahun 1990, presiden baru Afrika Selatan, F. W. de Klerk, memproklamirkan secara resmi berakhirnya apartheid –dengan dilepaskannya pemimpin ANC Nelson Mandela dari penjara serta legalisasi organisasi politik warga Afrika kulit hitam.[3] 

Oke, apapun itu, saya berharap diselenggarakannya World Cup 2010 di Afrika Selatan bisa membuka mata dunia akan potensi wilayah yang selama ini dianggap terbelakang ini. It's time for Afrika! 
Photobucket

[1] W. Raymond Duncan, Barbara Jancar-Webster, dan Bob Switky, World Politics in 21st Century (New York: Longman, 2002), hal. 361.
[2] Robert J. Norrell, Martin Luther King, Jr., Microsoft® Student 2007 [CD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2006. Microsoft ® Encarta ® 2007. © 1993-2006 Microsoft Corporation.
[3] Richard Hunt Davis, Apartheid, Microsoft® Student 2007 [CD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2006. Microsoft ® Encarta ® 2007. © 1993-2006 Microsoft Corporation.

4 Kicauan:

{ Wida Wulasari } on: June 11, 2010 at 10:36 AM said...

ica afrika selatan itu makmur banget lo, emasnya banyaak, kaya deh..
tadi ngeselin bgt padahal pengen liat bagian nelson mandela, eh malah band apaan itu cinta monyet, beliau pasti terharu banget ngeliat piala dunia kali ini. usaha beliau dulu menghilangkan politik apartheid nggak sia2 :)

{ Rizka Amalia (Ica) } on: June 11, 2010 at 11:09 AM said...

bener banget Wid, Afsel kaya emas. nah maksudku di sini dengan kalimat 'dianggap terbelakang'itu bukan berarti kawasan Afrika miskin secara material..tp dianggap terbelakang di aspek lain, misalnya aspek pendidikan, kesehatan,dll. hehehe.. :P Soalnya aku gerah juga kalau Afrika dibilang benua hitam yang konotasinya negatif wid..alhasil potensi-potensi lainnya jadi ketutupan deh. Termasuk potensi alam liar dan singa-singanya itu.. wekeke >,<
Iya bener banget wid! band yang tadi manggung ngeselin abis. Padahal kalau Opening Ceremonynya gak dipotong, bakalan lebih banyak atraksi menarik!

{ Wida Wulasari } on: June 12, 2010 at 4:32 AM said...

iyaa africa rules x)
betul2, apaan deh ada ramal2an gitu, nggak banget, bukannya usaha ningkatin kmampuan biar lolos ikutan piala dunia, malah masih bikin acara nggak penting :(

{ Rizka Amalia (Ica) } on: June 12, 2010 at 5:43 AM said...

betul sekaliiii!!

pdhl nggak usah diramal juga gak papa, yang penting aku dukung siapapun yg menang!

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger