Ayah

/ Monday, June 21, 2010 /
*Sebenernya Hari Ayah Sedunia jatuh pada hari Minggu ketiga pada bulan Juni, alias tanggal 20 Juni kemarin, tapi karena saya nggak tahu (soalnya saya nggak punya tanggalan..hehehe..), saya tulis aja sekarang. Oh ya, kalau ada yg ngedumel karena tulisan ini kepanjangan, sebenernya tulisan ini udah ditulis lebih singkat looh. Meskipun udah panjang kayak gini, kayaknya kata-kata ini pun masih kurang cukup untuk menggambarkan sosok seorang Ayah di mata saya. Wis lah, kesuwen, silahkan dibaca aja ya... :)

Perkenalkan, ini keluarga saya. (dari ki-ka atas) ada adik saya, Rara, masih duduk di kelas satu SMP. Sebentar lagi dia naik kelas dua. Kedua dari kiri atas, Ibu saya, Bu Haedah, seorang pengajar yang tak pernah henti. Ketiga dari kiri atas, Ayah saya, Pak Sanyoto -orang super yang akan menjadi topik utama saya hari ini. Pertama dari kiri bawah, ada adik tertua saya, Lila, masih kuliah semester 4. Terakhir, (kayaknya nggak perlu dijelasin deh, hehehe) seorang mahasiswi (calon) semester 9..hiks. :'(


Siang itu, saya pulang sekolah dengan muka muram dan keringat dingin.
Saya menabrakkan VW Ayah pada sebuah becak di pertigaan Jalan Merdeka Purwokerto. 
Saya nggak takut karena mobil itu lecet -itu masih bisa dibetulin. 
Saya lebih takut karena Ayah saya pasti akan marah. 
Saya diam, muka saya pucat pasi. 
Tapi, ketakutan saya tak terbukti, Ayah nggak marah. 
Ayah hanya tersenyum dan melihat kerusakan VW putih itu. 
Ayah bahkan menemani saya pergi ke kantor Polisi. 
Ayah mendengarkan cerita saya. 
Saya tahu saya nggak salah, tukang becak itu yang salah. 
Ayah saya mengerti benar akan itu. 
Jadi, ketika adik saya, Lila, menelfon saya dengan suara parau karena ia telah menabrakkan VW  kesayangan Ayah itu, saya cuman bisa tersenyum kecil. 
Ya, lampu belakangnya pecah. 
Dia panik setengah mati, dia menelfon saya sambil marah-marah. 
Saya tahu, dia nggak marah sama saya, dia marah pada dirinya sendiri. 
Saya cuman bisa ketawa, "Lil, tenang aja. Ayah nggak bakal marah kok. Nabrak dan ditabrak itu kan udah resiko." 
Dan benar, Ayah nggak marah. 
Ayah malah menertawakan kekonyolan adik saya karena kerusakan yang dibuatnya jauh lebih 'keterlaluan' ketimbang kerusakan yang dulu (sering) saya buat. 
Hahaha, Ayah saya memang emosional, tapi Beliau nggak segalak itu kok. ;)


Ya, itu hanya sekelumit kesabaran Ayah ketika kami (ketiga anak gadisnya) tampil sangat bodoh di depannya. Saya sering sekali kewalahan mengeluarkan mobil dari garasi. Ayah saya langsung mengambil alih dan mengeluarkannya dari garasi -lalu menyerahkan kembali kunci mobilnya pada saya.  Ayah saya jugalah orang pertama yang mengajarkan saya naik sepeda motor -meskipun pada akhirnya Beliau menyerah karena naik sepedapun saya tak lancar. Ayah saya juga mengajarkan saya untuk berani mengambil resiko -meskipun sampai sekarang saya masih seorang pengecut di depannya. Saya pemalu. Dan buat saya, saya (juga) malu-maluin. Tapi, seberapa memalukannya saya, Ayah selalu membanggakan saya di depan teman-temannya. Beliau senang sekali saya sudah besar, dan meskipun  saya perempuan, saya nggak seperti anak-anak perempuan kebanyakan, katanya. Saya nggak tahu apa maksudnya. Mungkin karena meskipun saya kuliah di luar kota, saya nggak banyak nuntut ini-itu, dan..mungkin juga karena meskipun saya di luar kota, jauh dari orangtua, tapi sampai saat itu saya masih belum punya pacar, hahaha..(saya juga nggak habis pikir, kenapa orang-orang berpikiran kalau mahasiswa yang nggak punya pacar itu mahasiswa yang fokus kuliah ya? Padahal kan nggak juga.. :P)

Ya, kembali ke topik awal. Ayah saya hanya seorang ayah yang sederhana. Ayah saya penyuka benda-benda jadul.  Ayah lebih suka pergi menggunakan VW butut ketimbang memakai mobil yang lebih nyaman dan ber-ac. Justru Ibu sayalah yang lebih cerewet soal naik mobil manalah, penampilan Ayah yang kurang rapilah, kalau pergi-pergi harus memakai sepatulah,  bahkan sampai ke hal-hal kecil kayak: cara ngejemur handuk yang benar (aah, saya jadi kangen kecerewetan Ibu :P). Ibu selalu mengkaitkan kebiasaan berantakan kami pada Ayah. Kalau adik saya menjemur handuk dengan asal-asalan, Ibu pasti berkomentar, "Ah, itu gen dari Ayahmu." Kalau adik saya malas mengembalikan buku ke tempatnya semula, Ibu pasti berkomentar, "Ah, itu gen dari Ayahmu."  Untungnya Ayah cuek-bebek sama omelan Ibu yang satu itu, hehehe.. Meskipun Ayah saya berantakan, saya sayang sekali sama Beliau. Meskipun (dulu) Ayah bau rokok, saya senang dicium dan mencium pipi Beliau. Ya, soal merokok, saya sering sekali bertengkar sama Ayah karena benda adiktif itu. Berkali-kali saya melarang Beliau merokok, tapi nggak mempan. Ternyata, adik saya, Lila, justru paling ahli dalam hal ini. Ayah berhenti merokok karena ngeliat Lila nangis sepulang melayat kematian Ayah teman sekampusnya. LIla nangis sesenggukan sambil memeluk Ayah, "Ayah berhenti ngerokok ya, aku nggak mau Ayah kayak bapaknya temenku." Dan, voilaa! Ayah pun berhenti merokok. Ya, sekeras apapun Ayah, Beliau nggak nahan liat anaknya nangis.

Beliau memang bukanlah seorang Ayah yang mengikuti perkembangan teknologi. Tapi salutnya, Ayah tidak pernah malu untuk bertanya pada saya apa itu facebook, apa itu email, gimana cara menggunakan kamera digital, dan hal-hal sepele yang sering membuat saya tertawa kecil.  Saya kadang kesal, karena setiap kali Ayah minta diajari, setiap kali pula kami bertengkar. Ayah meminta saya mengajarkannya pelan-pelan. Menurutnya, cara mengajarkan saya terlalu 'berat'. Saya sendiri juga kesal, karena Ayah lebih suka langsung mencobanya, dan bukannya mendengarkan saya bicara. Ketika Ayah mulai bingung, Beliau kembali memanggil saya. Begitu terus, sampai saya bolak-balik masuk keluar kamar Ayah. "Ca, ini gimana?" Lalu saya masuk kamar, mengajarinya sedikit, kemudian keluar kamar. "Kalau yang ini Ca?" Saya masuk kamar lagi. "Icaa? Ca? Sini laah, Ayah bingung."  Saya masuk lagi, "Aaah, kan tadi udah diajarin, makanya didengerin dong Yah, kalau Ica lagi ngomong.." Ayah saya langsung kesal, "Kamu mau nggak sih ngajarin?" Ya, saya biasanya langsung diem, lalu ngeloyor pergi sambil ngedumel. Sekarang saya kepikiran, selama ini saya bisa jalan dan berdiri pakai kaki sendiri karena siapa? Karena Ayah ngajarin saya jalan (bahasa jawanya: mentitah). Selama ini saya bisa kuliah di HI karena siapa? Karena Ayah yang nganjurin saya untuk memilih HI Unpad sebagai salah satu pilihan di form SPMB saya. Udah gitu, saya masiiiih aja nyesel dan ngedumel karena saya kuliah di HI -dan bukan Arsitektur atau Seni Rupa dan Desain. Ayah saya cuman diem, dan bingung, menawarkan pilihan untuk ikut SPMB lagi. Saya menolak, nangis, "Udah telat, aku udah semester tiga..kalau ikut SPMB aku rugi dua tahun kuliah..hiks, hiks (lanjut nangis)" (padahal sih sebenernya saya males belajar buat SPMB lagi, wekeke)  Saya nggak kebayang deh, kalau Ayah saja bisa sabar ngajarin saya jalan, sabar menghadapi kelabilan saya waktu remaja, kenapa saya nggak  bisa berlaku sebaliknya ke Ayah?

Ayah adalah orang yang tegas, terkadang emosional, tapi sangat pemaaf. Ya,  Beliau nggak marah ketika saya menjelaskan alasan keterlambatan kelulusan saya. Terakhir kali saya menelfon Ayah, Beliau hanya berpesan, "Hati-hati ya Ca." Beliau mengulangi kata 'hati-hati' berkali-kali. Ya, saya tahu sekali kekhawatiran seorang Ayah yang menyekolahkan anak gadisnya jauh dari jangkauan pengawasannya. Terkadang ada banyak hal yang lebih banyak dikhawatirkan seorang Ayah (ketimbang seorang Ibu) dari anaknya. Kamu pikir Ayahmu cuek? Nggak. Ayahmu nggak cuek, Beliau cuman gengsi mengucapkan kata-kata sayang padamu. Soalnya Ayah saya gitu juga.  Beliau sering menelfon dengan alasan kangen, tapi begitu kami udah saling bicara di telfon, tiba-tiba Ayah mengalihkan telfon ke Ibu. Ayah nggak bisa ngobrol lama-lama dengan saya di  telfon. Saya juga nggak bisa sih, saya takut nangis karena kangen..(jaah, membongkar rahasia sendiri). Meskipun nggak pernah bilang secara langsung, saya tahu kalau Ayah takut anaknya pacaran kebablasan, Ayah takut anaknya lulus nggak tepat waktu (yaah, yang ini agak menyinggung sih..), Ayah takut anaknya salah bergaul, dan banyak ketakutan-ketakutan lain, seperti: Ayah takut anak gadisnya diambil laki-laki lain. Ya, kalau saya nanti menikah, Ayah harus siap kehilangan saya. Jujur, saya nggak mau ada kata-kata seperti itu dalam kamus hubungan saya dan Ayah. Buat saya, Ayah adalah laki-laki pertama dan terakhir dalam hidup saya. Meskipun saya nanti jadi seorang istri, saya akan tetap menempatkan Ayah pada posisi pertama di hati saya (apa sih, ngehayalnya kejauhan deh Caa..).Tanpa Ayah, saya nggak bisa hidup kayak sekarang. Ayah lah penyumbang sperma ke ovum Ibu, sehingga terciptalah seorang saya. Ayahlah figur laki-laki sempurna di mata saya. Ayah adalah.. ah, kalau dilanjutin, bakal semakin panjang postingan ini. Hehehe..

Ini foto Ayah di waktu senggangnya. Di antara sekian banyak waktu senggangnya, Beliau nggak suka dan susaaah sekali difoto, jadi  kesempatan saya menfotonya adalah ketika Ayah sedang berfoto sama Ibu, Ayah lagi foto buat KTP dan sejenisnya, Ayah sedang tidur, atau Ayah sedang asyik-masyuk dengan pekerjaannya. Daaan...inilah foto candid saya waktu Ayah lagi  asyik main badminton dengan Ibu dan Rara.

Sudahkah kamu menelfon Ayahmu? Hari ini saya belum nelfon Beliau loh.. (jadi malu)

 


PS: Oh ya, sebenernya saya nggak memanggil Beliau Ayah. Tapi saya kira, akan lebih indah kalau kata Papa diganti sama kata Ayah. Haha, saya suka akhiran -ah dibelakang kata Ayah. Terkesan lebih gimanaaa gitu.. (apa sih?) :P


 Photobucket

12 Kicauan:

{ agungsmail } on: June 22, 2010 at 7:40 AM said...

beuh... klo mau jadi pendamping kamu sepertinya musti selevel atau di atas level ayah kamu deh.

wahai engkau para pria, lebih baik berguru dulu sama bapaknya sebelum pedekate anaknya... hahahahay..

{ Rizka Amalia (Ica) } on: June 23, 2010 at 6:31 AM said...

ahahaha, Ung lucu deh! :P

Iya nih, selevel aja udah alhamdulillah Ung! apalagi kalau bisa dapet yang levelnya lebih tinggi, bonus banget itu mah! *meskipun agak mustahil sepertinya*

{ Ung } on: June 23, 2010 at 8:43 AM said...

klo gitu sampaikan pada beliau, saya mau berguru... tapi belajar kuda-kuda dulu ya...

{ Rizka Amalia (Ica) } on: June 23, 2010 at 9:26 AM said...

kebetulan banget Ung! ayah saya lagi buka pelatihan nih, ada diskon buat yg daftar hari minggu. sayangnya, hari minggu kantornya tutup. hihihi.. :P

kuda-kuda? wah, kalau gitu saya mau latihan pernafasan dulu ah, bisi berguna buat matahin besi batangan.. *berasa mau debus*

{ Ung } on: June 23, 2010 at 1:39 PM said...

duh debus...

debus berasal dari? Banten..

diskon buat yang daftar hari minggu.. 100

pendaftar pertama dapat hadiah apa?

{ Rizka Amalia (Ica) } on: June 23, 2010 at 2:29 PM said...

ahaha, pendaftar pertama dapet piring cantik, jam dinding, atau kalender imut. yah, tergantung juga sih, nanti diundi lagi sama pendaftar nomor 1a, 1b, 1c, dan seterusnya.. wekekeke

{ agungsmail } on: June 25, 2010 at 5:07 AM said...

habis diundi ga disuruh berantem kan?

klo piring ganteng ada ga....?

{ Rizka Amalia (Ica) } on: June 25, 2010 at 5:47 AM said...

ahaha, sayang sekali nggak ada piring ganteng.. adanya cuman cowo ganteng, mauuuu?

ah, saya yakin yg ini mah kamu mau, eh maap, maksud saya, nggak mau. :P

{ agungsmail } on: June 25, 2010 at 11:39 AM said...

tolong cowo gantengnya dibungkus satu... tapi ga pake kresek..

mau saya bawa


Ke TPS..

{ Rizka Amalia (Ica) } on: June 25, 2010 at 12:48 PM said...

ah jangaaan.. saya mau kok nampung! *tsaaah
ah, mau dong atu buat adik saya. wekeke

aduh, tolong, jangan timpuk saya. tolong..jangan.. hiks.

{ ninit } on: November 30, 2010 at 3:44 AM said...

keren ca.. menyentuh.. bisa dibukuin trus kamu ilustrasi ndiri :D

{ Rizka Amalia (Ica) } on: December 1, 2010 at 3:08 AM said...

maau, tapi belum kepikiran buat ngebukuin Mba..ahaha.. :P

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger