Sebuah Cerita tentang Larkus

/ Saturday, May 01, 2010 /
Malam kemarin adalah malam minggu. Lalu kenapa? Ya, saya masih nggak habis pikir kenapa saturday night dibilang malam minggu dalam bahasa Indonesia. Stop, ini bukan bahasan saya sekarang. Yang jelas, malam minggu kemarin, saya dan teman-teman saya makan di sebuah (dan mungkin, satu-satunya) rumah makan Aceh di Jatinangor. Kami berlima memilih makan di lantai dua, karena kami pikir di atas udaranya bakalan nggak sepanas di lantai bawah (gilaa! Jatinangor sekarang panas banget!). Kami lalu nongkrong di situ sampai sekitar jam 9 kurang (saya lupa tepatnya jam berapa). Kami ketawa-ketiwi nggak jelas. Dan, coba tebak? Malam itu saya melakukan sebuah pembunuhan kejam. Buat saya, itu sangat kejam. Saya, seorang perempuan berumur 21 tahun (lewat 29 hari), yang ngakunya nggak kuat nonton film thriller, benci ngelihat darah, dan penakut, ternyata diam-diam punya jiwa membunuh cukup besar *lebay. Yeah, korban pembunuhan saya memang nggak punya darah. Jadi, buat saya, nggak terlalu mengerikan. :(
Malam itu, seekor lalat besar mengganggu acara makan malam kami. Tenang teman, dia bukan tse-tse. Saya memang nggak kenal dia, tapi dia ngebuat saya kesal setengah mati. Setelah berkali-kali saya dan teman saya mengusir lalat itu, dia  masih berhasil menghindar.  Lalat itu terbilang lincah, dia bisa terbang dengan gesit, menukik tajam, lalu kembali mengarah ke meja kami. Yaaa, nggak penting juga siih, tapi diam-diam, saya namai dia Larkus (baca: Lalat rakus). Nggak, ini nggak ada hubungannya sama markus, atau cakus. Apalagi kaskus. Nggak. Tapi, kalau diperhatikan, badannya sedikit tambun untuk ukuran lalat kebanyakan. "Mungkin dia tergolong lalat makmur," gumam saya dalam hati. Mmh, memang nggak sebesar lalat ijo yang ada di gerbang sih, tapi saya akui, kelincahannya nggak bisa kami tandingi. Saya pikir, mungkin tadinya lalat ini mantan pelari. Eits, saya salah, dia nggak lari -dia terbang. Apapun itu, saya kira, dulunya mungkin si Larkus ini mantan atlit. "Oke, kali ini kamu selamat sayang," gumam saya dalam hati. Akhirnya, kami larut dalam obrolan kami, dan si Larkus pun dengan tenangnya menjamah piring salah satu teman saya (untung makanannya sudah habis). Larkus mungkin berpikir, saya sudah melupakan niatan saya membunuhnya. Detik itu, Larkus nampak sangat menikmati sisa-sisa nasi di pinggiran piring -hingga tiba-tiba, "Crooot prooot prooot!!" Tubuh Larkus lemas tak berdaya, badannya tertimbun saus. Sayapnya nyaris nggak kelihatan. "Crooot crooot," beberapa semprotan saus kembali menenggelamkan Larkus. Larkus, sang mantan atlit itu pun gugur. Saya nggak tahu, dia kepedesan atau nggak. Tapi saya berharap, Larkus mati bahagia. Teman saya lalu menutupinya dengan tissue. Selamat jalan Larkus. Maafkan saya. Bah!
Oh ya, hampir lupa! Sebagai penutup, saya berharap ini Larkus terakhir yang saya bunuh. Saya nggak mau hidup saya dihantui Larkus-Larkus lainnya. Ini sedikit gambaran prosesi eksekusi si Larkus nakal. Mungkin lalatnya nggak mirip seperti lalat. Saya nggak  begitu ingat gimana wujud terakhir lalat yang saya bunuh ini. Sampai jumpa..err, Larkus. :-h


Terimakasih untuk lagu lembut yang satu ini, karena telah menemani saya menggambar dengan tenang :)
-RA-

2 Kicauan:

{ didiidid } on: May 2, 2010 at 10:51 AM said...

busyeeettt...serem amirrr...hahaha...gw mah waktu di salah satu resto ada laler masuk ke chocolate shake aku, ehh aku angkat, aku tiup2 tu lalet ampe kering...hahaha..kasian sihh..

*oh ya chocolate shakenya?! gw minum..meski gw buang seperempatnya..*(itu masih penuh segelas) hiks...abis chocolate shakenya enaaaakk!!

{ Rizka Amalia (Ica) } on: May 2, 2010 at 12:02 PM said...

iya, kasihan juga sih. tapi mereka kotor dan mengganggu Di... gak ada manfaatnya juga kita nyelametin dia, sama aja kayak nyelametin hidup nyamuk. yg ada dia bikin kita sakit, perut kita sakit karena dia nemplok di makanan kita, atau badan kita bentol2 dan (kalau beruntung) didiagnosa kena DB gara2 digigit nyamuk. beda sama semut, belalang, kupu-kupu *lah malah nyanyi* they're just too sweet and kind to be killed.

tenang Di, I made it fast, so I believe that it won't hurt 'him' much. hmm, kalau makanannya mahal, ya terpaksa dimakan aja sih. sepanjang belum 5 menit..wekeke :P

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger