Saya benci (tapi rindu) pada 'makhluk' bernama GENGSI

/ Thursday, December 10, 2009 /

Terkadang, sadar atau nggak, orangtua membanding-bandingkan anak mereka satu sama lain. Misalnya, si kakak yang rajin belajar dan nilainya bagus, dengan si adik yang pemalas dan nilainya jelek. Yaaah, begitulah. Kalaupun ada orangtua yang bilang, "Ayah nggak pernah pilih kasih, Ayah sayang sama kalian semua, nggak ada yang dibeda-bedain." Tapi tetep aja pasti ada rasa nggak adil di pihak si anak. Saya pernah ngalamin itu, pada waktu itu saya ada di sisi yang menguntungkan. Intinya, waktu itu saya jadi anak yang manis, penurut, lemah lembut dan sensitif (cengeng tepatnya), rajin belajar (itu duluuu), gemar menabung, mandiri, suka nggambar, aaah, pokoknya kegiatan yang serba positif, dan mungkin, pada saat itu dianggap lebih baik dibanding kedua adik saya. Saya bangun paling pagi, dan saya juga nggak pernah komplen kalau disuruh-suruh Ibu. Alhasil, kalau saya minta ini itu, pasti dibeliin (kalau memungkinkan, seketika itu diusahakan). Kalaupun nggak memungkinkan, orang tua berusaha menjanjikan. Saya nggak ngarep apa-apa sih waktu itu. Mau dikasih ya syukur, nggak dikasih juga nggak pa pa. Saya nggak banyak menuntut. Dan justru karena itu, Ayah dan Ibu saya suka memberi hal-hal tak terduga yang saya nggak pernah minta. Hidup saya waktu itu lurus-lurus aja, nggak pernah pamrih. 
Tapi..lama-lama, setelah saya ngekos, kok saya malah ngerasa semakin nggak mandiri ya? 
  • Pertama, saya terlalu menggantungkan diri sama uang kiriman orang tua (kalau kurang, nggak minta sih, karena orang tua selalu kirim uang untuk jaga-jaga, akibatnya saya cenderung boros). Berbeda waktu saya masih sama orang tua, saya selalu jaga uang saku, tiap bulan selalu ke bank. Tabungan nggak pernah dipakai macem-macem. Dan parahnya, ketika saya punya uang, saya pengen macem-macem.
  • Kedua, saya jauh lebih cengeng ketika saya sendirian, dibanding ketika saya bersama orang tua saya. Saya jadi banyak ngeluh sama diri sendiri.
  • Ketiga, hidup saya semakin nggak teratur, mulai dari pola makan, jam tidur, ...dan tolong, jangan tanya soal jam belajar.
  • Keempat, sholat saya bolong-bolong. Honestly, saya nggak pernah ngaji lagi.  Saya nggak puasa senin-kamis lagi. Memprihatinkan.
Awalnya, saya nggak (pernah) pusing-pusing mikirin empat hal itu. Sampai barusan Ibu dan Ayah saya ngobrol lewat telfon. Saya terenyuh... Cara Ibu saya menanggapi saya jauuuh berbeda dari cara mereka yang dulu. Sekarang Ibu dan Ayah merasa adik saya lebih baik dibanding saya (mereka memang nggak secara implisit ngomong kayak gitu), tapi mereka memuji adik saya di depan saya. Parahnya, saya nggak cemburu. Saya nggak risih. Minggu kemarin, Ibu menelfon, dan saya menjawab sekenanya aja. Ibu sempet kesel dan diem aja, mengakhiri telfon dengan berkata, "Ooh, ya udah. Udah dulu ya." Saya diam. Oooh yaa Allah, saya adalah manusia paling nggak peka di dunia!!! Ibu saya kecewa omongannya nggak ditanggepin, dan saya baru menelfon balik besok paginyaaa!!! Saya nggak bisa tidur semalaman. Saya tahu saya salah. Saya tahu saya mengecewakan mereka. Saya cuman gengsi buat minta maaf. Ya ampun. Saya benci itu. Saya benci segala bentuk kegengsian. Dan sekarang saya merasakan itu. Saya gengsi untuk mengakui adik saya lebih baik dari saya. Kedua adik saya, tepatnya.
Faktanya:
  • Adik tertua saya berprestasi di pelajaran IPA -sementara saya tidak. Dia juga rajin belajar dan berhasil jadi siswa dengan nilai kelulusan tertinggi di SMAnya. Dia memang bukan diterima di SMA Negeri dambaan banyak orang. Dia cuman di SMA Negeri pinggiran. Berbeda dengan saya. Tapi saya salut, dia tegar, nggak pernah nangis, dan finally, dia bisa ngebuktiin  kalau dia mampu jadi yang terbaik di sekolah itu. Sementara saya? Saya berubah menjadi anak paling malas waktu pelajaran kimia dan nggak habis pikir kenapa saya bisa masuk IPA. Kalau saya ditempatkan pada posisi itu, saya pasti nangis dan merenungi hidup saya, kenapa saya gagal, kenapa saya begini, kenapa saya begitu, dan ujung-ujungnya saya menyesali kenapa nggak bisa masuk sekolah yang lebih bagus, blaaa blaaa blaaaaah..
  • Adik saya yang terakhir adalah anak berbakat dengan segudang teman -yang saya sendiri nggak punya pada saat saya seumur dia. Saya (mungkin) cenderung anti-sosial. Punya temen ya syukur, nggak ya nggak masalah. Saya cuek. Saya penyendiri. Dan waktu saya SD, SMP, dan bahkan hingga SMA, saya sama sekali nggak nangis pas perpisahan sekolah!! Jujur, saya nggak punya banyak temen. Saya curigaan dan nggak gampang percaya sama temen. Hahaha..bodoh sekali.
  • Ketika lepas dari SMA, saya baru tobat. Saya ngerasain susahnya sendirian. Kalau sakit nggak ada yang nolongin, kalau sedih dan sengsara nggak ada yang (paling tidak) menghibur. Adik termuda saya berbeda. Dia punya apapun yang saya punya, tapi saya nggak punya semua yang dia punya. Bahasa Inggrisnya tergolong bagus untuk anak SMP. Dia juga jago nggambar, secara manual atau digital (yaah, meskipun masih belajar, dia cepet mengerti kalau diajarin). Dia serba ingin tahu. Dan dia gampang akrab sama siapapun. Saya iri. Saya iri karena saya nggak bisa kayak dia.
  • Kedua adik saya adalah tipe adik yang paling pengertian dan paling dewasa yang pernah saya temui. Adik tertua saya, cuman selisih 1,5 tahun, namun dia udah kayak kembaran saya. Selera bercandaan kami sama. Bahkan, dia udah jarang banget bertengkar dengan saya. Dia kerap menasehati kebodohan dan kesalahan-kesalahan saya. Hebatnya, dia nggak pernah jatuh ketika dia gagal. Nggak pernah pantang mundur. Sementara adik saya yang terakhir, Ibu dan Ayah saya selalu bilang, dia = duplikat saya. Dia mirip dengan saya, hobi, bakat, kesukaan, dan kalau saya ngobrol dengan dia, saya berasa lagi ngobrol sama diri sendiri. Dia kembaran saya, meskipun umur kami berbeda 8 tahun. Bedanya: dia jauuuh lebih tegar dan kuat dibanding saya. Dia jarang nangis (kecuali kalau kehilangan barang kesayangannya yang udah dicari-cari tapi tetep nggak ketemu).  Bahkan kedua adik saya nggak ketakutan dan pucet setengah mati waktu liat jarum buat ngecek golongan darah.  Bayangkan, hanya untuk jarum sekecil itu saja, saya udah mencak-mencak pengen keluar ruangan dokter tadi. Saya phobia jarum suntik, mereka nggak. Saya memang nggak takut keluar malem, tapi saya punya lebih banyak 'ketakutan' di banding mereka. Saya terlalu banyak khawatir akan hal yang nggak seharusnya saya takutin, seperti: takut jatuh, takut jarum, takut gagal, takut ngomong, takut berlebihan akan masa depan, blaaa blaaa blaaa... Sementara, mereka jauuuh lebih macho dari saya. Mungkin mereka takut, tapi mereka berani ambil resiko.
  • Mungkin orang yang nggak kenal saya beranggapan saya cewe tomboi yang kuat. Cewe yang selera musiknya keras-keras. Cewe yang serius dan nggak cengeng. Tapi sebaliknya enggak. Saya rapuh di dalam. Jauuh lebih rapuh dari yang kamu kira. Cuman bedanya, saya nggak pernah sadar dan nggak pernah mau tahu seberapa rapuhnya saya. Saya nggak mau terlihat rapuh di depan orang lain. Jadi saya lebih sering bersembunyi di dunia saya yang lain. Pura-pura asyik sendiri, supaya orang nggak pernah mikir kalau saya lagi stress atau marah. Saya pusing, lalu saya tidur. Saya bingung, lalu saya lari. Saya takut, lalu saya kabur. Saya nyasar, lalu saya balik lagi ke titik awal. Saya nggak berani ambil tantangan baru. Saya nggak berani keluar dari comfort zone. Saya nggak cari jalan keluar. Saya tahu saya salah, tapi saya nggak ngelakuin perubahan dari dalam diri saya. I'm stucked inside. I'm in love with my own sins..(hahaha, FOB banget yaaah?).
Jadi, saya nggak masalah kalau orang tua saya sekarang memuji adik saya di depan hidung saya. Anehnya saya nggak cemburu. Saya iri tapi saya nggak tergerak untuk mengikuti perubahan yang mereka lakukan. Perubahan positif yang mereka buat. Apa yang saya lakukan untuk mengembalikan kepercayaan orang tua saya? Saya diam saja. Saya malah berpikir, "Ya biarin aja. Aku ikut seneng kok kalau mereka majuu!!" Tapi saya malah nggak terpacu sama sekali. IPK lebih tinggi? Sok aja. Tapi (sekali lagi), saya nggak terpacu untuk lebih rajin belajar. Ini salah. Sama sekali salah.  Saya menerima saja keadaan saya sekarang. Nggak seharusnya begitu. Kadang rasa iri dan cemburu  dibutuhkan juga loh (tentu saja dalam dosis yang lebih kecil, dan tentunya, yang bersifat positif/membangun). Saya ikut senang dengan apa yang mereka dapat, tapi semestinya, sengan kemajuan yang mereka lakukan, saya jadi semangat dan terdorong untuk bisa mempertahankan apa yang saya punya, dengan mencoba meningkatkan pondasi dan bangunan kepercayaan yang orang tua saya berikan.
Ok, jujur, saya akui, kedua adik saya lebih hebat dari saya. Saya nggak malu untuk mengakui itu. Buat saya senioritas itu nggak penting. Bukan berarti karena saya kakak tertua, mereka harus selalu berkaca pada saya. Saya nggak boleh gengsi untuk berkaca kepada yang lebih muda. Dan saya sadar, mulai sekarang saya harus membuka mata pada potensi adik saya. Saya harus bisa mengimbangi mereka. Saya harus gengsi kalau sifat buruk saya nggak diubah dari dulu.



Sebenernya nggak perlu nunggu tahun baru untuk berubah. Kamu bisa berubah kapanpun kamu mau. Kapanpun kamu punya niat. Nggak perlu gengsi buat mengaku kamu kalah. Tapi jangan lupa, kamu juga perlu gengsi buat ngedorong dan memacu diri. Kamu perlu gengsi agar kamu nggak terus ada di 'tempat' yang sama setiap hari. 'Gengsi' in positive way.



“Are you not ashamed of caring so much for the making of money and for fame and prestige, when you neither think nor care about wisdom and truth and the improvement of your soul?”
 Socrates quotes (Ancient Greek Philosopher, 470 BC-399 BC)


-R.A.-


0 Kicauan:

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger