Praktikum Profesi HI 2006: Jakarta!!

/ Thursday, December 03, 2009 /
Dari tanggal 30 November sampai tanggal 6 Desember, anak-anak HI 2006 ngadain Praktikum Profesi. Pilihannya ada dua: ke ASEAN dan ke Jakarta. Untuk ASEAN, anak-anak berangkat dari hari minggu tanggal 29, jam 11 malem (kalau gak salah) dan balik sekitar tanggal 6 Desember, rutenya ke negara-negara ASEAN (meskipun nggak semua), kayak: Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, rute lainnya saya nggak tau, hehehe... (asyik banget nggak sih?? sempet iri juga sih awalnya..) Nah, saya sendiri memilih buat Praktikum Profesi ke Jakarta dikarenakan beberapa sebab. Frankly, I can't ask my parents for that amounts of money that would be spent only for seven days. Uh, oh, uh...tabungan saya juga bakalan habis seketika. Hehehe.. :D




Nah, dengan segala keterbatasan otak dan keterbatasan uang yang saya punya, saya memilih untuk praktikum ke Jakarta dengan berbagai harapan berkecamuk di kepala..(berharap tiba-tiba Angkor Wat dipindah di Jakarta, wehehehe..).  Anak-anak yang pada praktikum profesi ke Jakarta bisa dibilang cukup banyak, dan justru lebih banyak daripada yang ke ASEAN (yaa iyaa laaaah). Hari Senin pagi buta, jam 2 pagi, saya udah bangun dan mandi. Kebetulan waktu itu temen saya, Nindy, nginep di kostan saya. Berbekal sarapan roti dan susu dancow stroberi, kita pun berangkat naik angkot ke Pangdam (alhamdulillah angkotnya udah ada, tadinya sempet desperate banget kalau musti jalan kaki). Setelah temen-temen terkumpul semua, berangkatlah kita ke Jakarta pada sekitar pukul 4.20 WIB.

Destinasi pertama: Departemen Luar Negeri dan Kantor Perwakilan Uni Eropa
Senin, 30 Desember 2009:


bersama pak Marty di Deplu
(seseorang, yg punya foto saya bersebelahan persis dengan Beliau, tolong upload dong!! huhuhu..)

Gosh, ini pertama kalinya saya masuk ke Deplu, sebuah tempat yang bakalan jadi tempat magang saya bulan Januari entar. Kesan pertama: malu banget, soalnya kita dateng telat sekitar 2 jam dari waktu yang diperkirakan. Tapi keberuntungan sepertinya masih berpihak pada kami. Pak Marty Natalegawa, yang tadinya bakalan kami temui pukul 8.00, ternyata mengatur ulang schedule-nya, sehingga Beliau bisa bertemu kami dan berpidato di depan kami. Beliau sama sekali nggak marah kalau kita telat, Beliau malah senyum dan ramaaaaaaaah banget. Jauh banget dari kesan galak atau formal. Selain lebih ganteng dari di tv dan di koran, Beliau juga metroseksual abisss!! (salah satu kriteria laki-laki yang menurut Andris lagi ngetren di Deplu). Selain itu, Beliau juga humble banget. Sayangnya saya nggak bawa kamera waktu itu, jadi saya nggak bisa mengabadikan foto saya waktu bersebelahan dengan Beliau. Sumpah, habis bersalaman sama Pak Marty, saya malesss banget cuci tangan!!! Gilaaaa, pas saya memotret Pak Marty dengan temen saya, saya sempet bilang ke Dinda, "Din, habis ini fotoin Ica sama Pak Marty yaa.." Sayangnya, tiba-tiba temen saya nyerobot dan nggak mau ngantri (tidak perlu disebut namanya). Saya cuman bisa melongo sambil menunjuk hidung saya, "Aku??," gumam saya. Saya pikir Pak Marty nggak denger. Eh ternyata pas temen saya selesai foto sama Beliau, Beliau langsung bilang, "Kamu, kamu, ayo foto." (Pak Marty nggak tega kali yaa ngeliat wajah polos dan innocent saya..hehehe...). Daaan...TANGAN SAYA DIPEGANG SAMA PAK MARTY!!!! Alhasil jadilah saya berfoto bersebelahan sama Beliau. Sayangnya, saya lupa siapa dan kamera siapa yang ngebantu menfoto saya sama Pak Marty!!!!!!!!!!! Siapapun!!! Tolong sayaaaaaaa!!! Huahuahuaaaaaa... T,T
Mungkin ini satu-satunya nilai lebih anak-anak yang Praktikum ke Jakarta. Saya nggak tahu deh, kalau nggak ketemu Pak Marty, mungkin nggak ada yang bisa saya banggain dari Praktikum kami. Hehehe.. Tapi overall, BIG THANKS BUAT IVAN IMMANUEL!!!

Setelah dari Deplu, kamu bergegas ke Perwakilan Uni Eropa. Di Uni Eropa, kami dapet banyak presentasi, bahan-bahan, dan bonus-bonus buat anak-anak yang berhasil ngejawab kuis yang diberikan. Tiga anak dapet tas dari Uni Eropa dan tiga anak lainnya dapet boneka teddy bear Uni Eropa (yang dapet boneka justru cowo semuaaaa!!). Kami yang duduk manis juga dapet souvenir kok, dapet tas punggung kecil yang (syukurlah) anti air. karena tas anti air itulah, saya bisa menyelamatkan barang-barang saya ketika berarung jeram di Dufan. Parahnya, tas UE ini sering ketuker-tuker sama punya anak lain, soalnya 90 anak yang lain juga dapet tas yang sama!! hahaha.. :D


di Kantor Perwakilan Uni Eropa

Setelah berlelah-lelah ria itu, kami pun dipulangkan ke Hotel kami. Hotel apakah itu? Hotel Sofyan. Yup, mungkin nggak asing lagi ya. Hotel ini adalah warisan kakeknya Marshanda (jangan berharap buat nemuin Marshanda di hotel ini). Hotel ini terletak di jalan Cikini Raya nomor 79, Kecamatan Menteng. Katanya sih Hotel ini bintang tiga, tapi kok saya belum merasakan fasilitas itu di kamar kami ya.. Kami kedapetan kamar nomor 511, sementara Anto, Andris, dan Anggi kebagian di kamar nomor 527. Nggak tau kenapa, kamar-kamar yang di lantai 5 hawanya beda, pengap dan panas (bangunannya cukup pendek, I think). Sementara suasana di lantai lain boleh dibilang lebih bersahabat. Nggak tau juga yaa, anak-anak yang ada di lantai 5 rata-rata anak-anak geje semua. Yaaa, kecuali anak-anak Jaja tentunya.. :P

inilah tampak depan lobby hotel Sofyan Cikini 

Pertama kali datang, kami disambut dengan aroma pengap dan wangi nenek-nenek di kamar. Kamar kami cukup spooky, dengan bathtube yang nggak pernah sudi saya pake buat berendam, AC yang tidak bersahabat dengan bedcover yang tak kunjung datang sampai kami pulang, dan sebuah tv 21" yang enggan buat ditonton. Untungnya, saya sekamar dengan seorang perempuan pemakan segala bernama Wima (bukan nama sebenarnya), dan seorang setengah perempuan-setengah laki-laki yang gemar tidur dengan mata setengah terbuka, bernama Waria (bukan nama sebenarnya juga). Dua perempuan ini termasuk orang yang cuek dan nggak peka, sama kayak saya. Dan kami juga punya tetangga kamar yang sama-sama geblegnya, Anto dan Andris. Kami bergantian main ke kamar satu sama lain, yaa sekedar numpang nonton tv atau numpang ngerumpi. Nah, malam terakhir di Hotel Sofyan, kami lewati dengan hobi ngerjain Anto yang muncul secara tiba-tiba. Anto berpura-pura menjadi resepsionis Hotel dan meneror kamar-kamar lain dengan memperingatkan kalau kamar mereka terlalu ribut dan banyak tetangga kamar yang komplen. Clara berhasil tertipu dan sempet minta maaf terus karena ketakutan. hahahayy!! Fun banget, deh!! Yaah, walaupun keadaan dan kondisi kamar yang tidak mendukung. Beberapa anak di kamar lain, termasuk Arbo (tentu saja), sempet cerita mereka ngerasain hal-hal aneh terkait dengan dunia lain. Untungnya cerita itu kami dapet setelah kami checkout dari Hotel Marshanda yang spooky itu. Alhasil dua malam itu tetep bisa kami lewati dengan bahagia dan ceria bersama-sama (lebay).

Anto, saya, Wima, dan Clara sang Fotografer, foto di depan cermin,
di kamar Clara dan Goldy :P (Goldy lagi tidur, hehehe..)

 
foto keluarga? (ki-ka: goldy, waria, wima, clara, saya)

Destinasi kedua:  Kedutaan Besar Jerman dan Dufan
Selasa, 1 Desember 2009:
Karena kuota yang nggak mencukupi, kelompok pun dibagi menjadi 30 orang ke Kedubes Jerman, dan 40 orang ke Kedubes Kanada. Untuk hari Selasa, 30 anak dipecah ke Kedubes Jerman, sementara sisanya diboyong ke Dufan. Dan untuk Kedubes Kanada, diselenggarakan hari Rabu, sementara anak-anak lainnya diboyong ke kota tua dan ke monas. Saya sendiri kebagian kelompok yang ke Kedubes Kanada. Jadi, pas hari Selasa itu, anak-anak Jerman udah pada rapi dengan batik dan sepatu pantofel mereka, kita masih acak-acakan dan baru bangun buat sarapan di hotel. Sarapannya lumayan beragam, sayangnya kurang berbumbu. hehehe..
  
di depan Kicir-Kicir (ki-ka: andris, saya, wima, anggi, anto, siska)
Selagi anak-anak lain ke Kedubes Jerman, kami berangkat dari hotel jam 11.00 WIB buat jalan-jalan dan do fun di DUFAN. sayangnya kami cuman punya waktu sampai jam 18.00 aja. Tapi lumayan puas kok. Wahana yang kami naikin ada banyak, pertama-tama kita ke Rumah Miring, Rumah Kaca, dan menuju ke wahana ketinggian pertama seumur hidup saya yang berani saya naikin: Tornado (sumpah deh, kalau ketahuan sama ayah ibu saya, pasti saya nggak boleh main ke DUFAN lagi). Saya dan beberapa temen saya, Wima, Waria, Anto, Andris, dan Anggi, terpisah dari temen-temen lain. Sayangnya cuman Wima, waria, dan saya yang naik Tornado, cowo-cowo itu ternyata nggak cukup berani buat nyobain. Awalnya juga saya nggak berani loh, tapi berkat bantuan Wima dan Waria, saya bisa dan berani nyoba (BIG THANKS YAAA!!!). Setelah itu, saya nggak begitu takut ketinggian lagi. Justru saya ngerasa fun banget naik Tornado. Setelah dari Tornado, kami nyobain naik Kereta Kuning (Alap-Alap), Poci-poci, Kicir-Kicir, Arung Jeram, Ontang-Anting (setelah berbasah kuyup, kami pengen ngeringin badan dengan berontang-anting di udara, kayaknya begitu kita naik, semua air muncrat-muncrat ke bawah, hehehe...), dan wahana terakhir yang cuman dinaikin Wima sama waria: Niagara. Sayangnya kami nggak ada yang bawa kamera, jadi kami nggak banyak foto-foto kenangan di sini. Tapi nggak papa teman, acara DUFAN ini bakalan jadi memori kebersamaan persahabatan kita yang nggak bakalan terlupakan! :D




do fun di dufan sambil memamerkan tas UE, hehehe.. :P (ki-ka: tiwi, saya, wima, anggi, anto, siska)
 

Destinasi tambahan:  Sopo Ngiro dan Bakmi Roxi
Selasa Malam, setelah mandi dan keapean dari DUFAN, dengan berjalan kaki melewati TIM sambil dipandangi oleh preman-preman yang tertarik dengan hot pants Wima dan kemolekan dada Anto.
Hahaha, sopo sing ngiro warung makan di pinggri jalan itu ternyata menjual makanan Jepun?? Hahahaha, kami bertiga memilih membeli tiga menu yang berbeda, saya beli beef katsu, Wima beli beef yakiniku, sementara Anto membeli satu menu yang namanya aneh (saking anehnya saya lupa namanya). Karena alasan uang dan sudah kenyang, kami akhirnya membeli (cukup) satu mangkok steamed rice untuk dimakan bertiga. Hahaha.. Harganya standar, menu saya menghabiskan Rp. 17.500 untuk: steamed rice (1000an/orang, karena kami belinya patungan, hahahayy), beef katsu Rp. 14.000, teh manis hangat Rp.2.500. Setelah makan makanan Sopo Ngiro itu, Wima masih tergoda dengan Bakmi Roxi, alhasil kami bergegas ke tenda sebelah dan memesan semangkuk bakmie Roxi (harganya berapa ya, lupaaa) untuk dibungkus dan dimakan di hotel. Bakmienya enaaaaaak banget deeeeh!! recommended banget. :P

Destinasi ketiga:  Kedutaan Besar Kanada
Awalnya saya juga bingung, kenapa Kanada? Kami nggak punya matakuliah yang ngebahas Kanada secara spesifik, dan kami juga nggak tahu banyak sejauh mana hubungan diplomatik Kanada dan Indonesia. Laah, wong kantor Kedubesnya aja kecil, cuman ada di WTC dan bukan gedung sendiri yang terpisah. Waaah, kalau kantornya juga kecil, berarti hubungan diplomatiknya juga nggak terlalu erat. Tapi, ternyata sambutan dari orang-orang Kedubes Kanada justru jauuuh lebih ramah dari yang kita bayangin -dan kata anak-anak yang berangkat ke Kedubes Jerman, di Jerman anak-anak nggak ditreat seramah di Kanada. Bahkan mereka menyediakan 14 kursi tambahan bagi anak-anak lain yang juga pengen ikutan ke Kedubes Kanada. Alhasil 54 anak berhasil ditampung di sini. Sebelum masuk, handphone, kamera, flashdisk dan benda-benda elektronik lain ditarik dan disimpan sama Ivan. Beberapa ada yang dititipin sama petugas keamanan WTCnya. Keamanan di sini dijaga banget. Tapi untungnya flashdisk saya nggak kedetect loh. :D
Ketika lagi asyik-asyiknya dengerin presentasi dari Pak Dubes dan staff perempuannya, tiba-tiba ada alarm kebakaran bunyi. Kita pada panik semua, "alarmnya bunyi?? kebakaran beneran nggak tuh??" Ternyata, alarm itu cuman latihan simulasi kebakaran doang. Yaaaah, jadi kami terpaksa udahan di Kedubes Kanada. Tapi, ada satu hal yang paling menarik sekaligus menyebalkan di sini. Apa coba? Kita dapet pelatihan simulasi kebakaran gratis, dan terpaksa turun dari lantai 6 sampai groundfloor lewat tangga darurat -dengan tetap memakai sepatu heels yang menyakitkan dan bikin lecet!! Yang bikin malu-maluinnya, ada beberapa anak HI yang masih sempet ngambil makanan selagi orang-orang nurutin petunjuk dari staff buat turun lewat tangga darurat. "Woi, woii, makanannya entar aja. Sekarang turun dulu ajaaa...," gitu kali ya, pikir staff Kedubesnya. :P

 
di depan WTC (ki-ka: ulie, ghea, clara, mayang, gheni, saya, nana, ensi)

 
di depan WTC (ki-ka: goldy, saya, wima, andris, shahnaz)

Destinasi terakhir: Jatinangor
Kita nyampe Jatinangor sekitar jam 11an kayaknya, saya juga lupa deh. hehehe... Akhirnya, tak terasa praktikum ini selesai jugaaa... Semoga duitnya masih nyisa ya.., soalnya saya pengen beli gitar.
:D


-R.A.- 

0 Kicauan:

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger