Karena satu tanganku nggak cukup menggenggam dua bola sekaligus.

/ Tuesday, November 10, 2009 /
SOMETHING ABOUT CHARLIE'S CHOICE
 

'The thing to remember,' Grandma Georgina said, 'is that whatever happens, you'll still have the bar of chocolate.' (Charlie and The Chocolate Factory, Roald Dahl)

Inget nggak, kata-kata itu muncul pas Charlie lagi ngapain? Yup! Kata-kata itu muncul pas Charlie mau ngebuka Chocolate Bar Willy Wonka yang baru dia dapet dari ortunya buat hadiah ulang tahun.. Ya, kalau diinget-inget, kata-kata Grandma Georgina bener banget. Setidaknya, kalaupun Charlie nggak jadi dapet Golden Ticket, dia masih bisa makan coklatnya kan?

Itu juga yang sekarang kepikiran di kepalaku. Ketika kita semua dihadepin sama dua kemungkinan, kita juga bakalan menghadapi dua konsekuensi yang berbeda, dan kadang-kadang nggak memungkinkan kita buat nge-ikhlasin salah satunya. Dan yang terpenting: kita nggak boleh menyesali apa yang udah terjadi, tapi sebaliknya, kita harus bisa melihat sisi positifnya (meskipun apa yang kita peroleh nggak sesuai sama apa yang kita pengen).



Jadi ketika orangtua Charlie beliin coklat atas dasar: "Charlie-pengen-dapet-Golden-Ticketnya," Charlie sendiri dihadepin sama dua kemungkinan: kalau dia menang, dia bisa jadi salah satu dari lima anak yang terpilih buat mengunjungi pabrik coklat Willy Wonka yang spektakuler itu. Sementara kalau dia nggak dapet golden ticket (alias kalah), dia cuman bisa makan coklat batangannya aja.. Analogi yang menarik. Itu juga yang aku alamin sekarang. Ketika aku dihadapkan pada dua kemungkinan, aku pasti akan menimbang-nimbang beberapa kesempatan keberhasilan ataupun kegagalan yang bakalan terjadi. Mau itu dampak positif atau dampak negatif, aku harus siap ngehadepinnya. Mau nggak mau. Yaaa, kayak Charlie aja, mau nggak mau, dia harus nerima, coklat batangan pemberian orangtuanya justru nggak ngebawa hoki buat dia. Dia nggak bisa protes, karena orangtuanya juga nggak punya duit lagi buat ngebeliin coklat lagi. Kata-kata neneknya tadi-lah yang ngehibur Charlie, supaya dia bisa melihat sisi lain dari sebuah kegagalan. Kalau dalam kasusku: "Ya, setidaknya aku udah nyoba kok. Meskipun aku gagal, tapi aku udah nambah pengalaman,  aku jadi ngerti, dan nggak penasaran lagi." Intinya mah  walaupun gagal, aku harus  tetep yakin: ketika satu pintu tertutup, pasti ada pintu lain yang terbuka.




sumber: http://images.fanpop.com/images/image_uploads/charlie-and-the-chocolate-fact-charlie-and-the-chocolate-factory-466443_1024_768.jpg

  

Begitupula pas Willy Wonka memutuskan untuk mewariskan Charlie pabrik coklatnya, asalkan Charlie mau tinggal di dalamnya. Charlie dengan tegas bilang, kalau dia lebih memilih tinggal dengan orangtua dan nenek-kakeknya dibandingkan tinggal di pabrik besar itu seorang diri. Pilihan yang menggiurkan, namun nggak  mampu menggoyahkan hati seorang anak kecil seperti Charlie sekalipun. Good boy. Dan aku pernah melakukan tindakan bodoh ketika ditanya Papa: "Ca, kalau kamu disuruh milih, mau jadi anaknya pedagang es krim atau anak Papa?" Aku dengan polos (dan nyebelinnya) menjawab: "Ya jadi anaknya pedagang es krim lah, Pa. Kan aku bisa makan es krim tiap hari.." Bodoh. Ternyata mentalku udah keliatan bobrok dari kecil. Wekekkekekke... :P



Intinya mah  walaupun gagal, aku harus  tetep yakin:
ketika satu pintu tertutup, pasti ada pintu lain yang terbuka.
 

Klasik banget. Memang.

Tapi kadang kala kita suka nggak sadar sama hal-hal yang sepele, sehingga kita masih perlu diingetin orang lain. Nah, itulah pentingnya temen curhat. Aku juga baru nyadar kemarin-kemarin kok. Itu juga temenku yang ngingetin :D



Nah, postingan yang ini sebenernya nggak ada hubungannya sama curhat-curhatan atau rahasia-rahasiaan. Maaf kalau ada yang tersinggung. Tapi ini seriusan nggak ada hubungannya sama itu. hahaha.. 







Bulan Oktober kelabu
 

Jadi, akhir bulan kemarin, aku membuat kesalahan besar yang sangat nggak aku harepin. Aku memutuskan untuk melakukan suatu tindakan dengan cara yang nggak bijaksana. Sama sekali nggak. Aku ngelakuin tindakan itu atas dasar naluri aja, nggak pake nalar, atau logika. Apakah itu? Aku memutuskan untuk berhenti dari sebuah perkumpulan, dengan alasan yang nggak logis dan mengada-ada. Parahnya, ketika aku udah merencanakan momen yang tepat untuk ngejelasin itu semua, tiba-tiba ada insiden yang justru membuat aku kesel dan pengen jauh-jauh dulu buat sementara. Aku akui, mereka teman-teman aku, dan aku seneng berteman dengan mereka. Tapi ternyata 3 tahun bukan waktu yang cukup buat ngeyakinin aku kalau aku bener-bener completely nyaman sama mereka. Aku nggak tahu kenapa ya..tapi seolah-olah aku bener-bener pengen ngejauh atau keluar dari perkumpulan mereka. Padahal aku nggak bermaksud seperti itu. Sungguh. Aku hanya kecewa, ternyata mereka beda banget dari mereka yang aku kenal dulu...


Dulu, masing-masing dari kami punya ciri yang berbeda-beda. Kami punya gaya bercanda yang unik satu sama lain. Nggak ada yang sama persis. Tapi sekarang, semua berubah. Masing-masing seperti jadi satu individu yang identik, sama sekali nggak ada bedanya. Dalam beberapa hal, itu bagus juga sih. Tapi...ada kelemahannya juga. Ketika ada satu yang salah, yang lain nggak ada yang ngingetin, karena masing-masing berpikiran yang sama: "aah, biasa aja kok." Nah, itu dia kelemahan kami. Aku nggak biasa seperti itu. Sesama teman sebaiknya saling mendukung, saling mengingatkan, ya kan? Dan aku ngerasa aku nggak bisa ngingetin mereka. Aku nggak punya peran apa-apa. Aku kayak kerikil. Aku nggak ngerasa belong. Mungkin karena aku ngerasa nggak sama seperti mereka. Awalnya aku pikir: perbedaan itu indah, asal kita bisa saling melengkapi. Begitu pula sebaliknya, persamaan akan indah jika dibarengi dengan saling mendukung dan mengingatkan.  Take and give lah. Aku nggak mau nge-take aja, tanpa nge-give, begitupula sebaliknya... Tapi sayangnya aku nggak ngerasain itu. Sepertinya, itu yang ngebikin aku ngerasa nggak belong. Dan aku sedih karena ternyata teman-temanku di perkumpulan itu bukanlah teman yang bisa membuat aku nyaman dan aman. Mungkin itu cuman pandangan subjektif aku aja. Tapi sepanjang yang aku alami, aku nggak jadi diri aku sendiri lagi. Aku jadi ingin sama seperti mereka. Aku pengen bisa ngelucu kayak mereka, karena kalau aku nggak lucu, dikatain jayus atau diledekin. Aku ikut kesana kemari, karena aku pengen jadi bagian mereka. Aku ikut nonton film  science fiction (yang aku nggak suka), karena aku pengen nyambung ngobrol sama mereka. Intinya: 3 tahun ini aku berusaha nyambung dan senyaman mungkin sama mereka. Mereka memang menyenangkan, dan aku seneng banget punya temen kayak mereka. Mereka humoris dan rame. Mereka masing-masing berbeda. Kalau dianalogiin lagi, masing-masing seperti superhero yang punya karakter power-nya sendiri.


Tapi sekarang, bagiku, mereka semua sama. Gaya bercanda, gaya bicara, cara berpikir, cara menilai orang, semua jadi sama. Sama persis. Aku jadi merasa semakin nggak belong. Aku bingung. Tapi aku nggak mau terkesan jauh ke mereka. Sampai akhirnya tiba sebuah keputusan yang menyakitkan. Aku memilih untuk pindah ke perkumpulan lain. Aku memilih untuk melepaskan salah satu bola di satu tanganku. Karena aku tahu, tanganku nggak cukup untuk menggenggam dua bola sekaligus. Salah satunya harus diikhlaskan. Maafkan aku teman, sekarang aku sedang bimbang. Aku butuh waktu, waktu untuk mencari tempat where I belong. Tempat di mana aku ngerasa aman dan bisa menjadi diri aku sendiri. Tempat di mana aku bisa bergabung, tanpa harus menjadi sama. Itu saja. I just need more time..





Song for today: Pressure by Paramore.



-RA-

0 Kicauan:

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger