Kekerasan PRT pada anak, wajar nggak sih?

/ Tuesday, October 27, 2009 /
Video Mencengangkan!! 

Saya nggak tahu kenapa banyak orang bisa seenaknya main pukul ke anak-anak sembarangan. Jujur, saya sendiri juga bukan tipe perempuan yang keibuan, atau suka anak-anak. Dulu saya termasuk tipe anak pemberontak, tapi beruntung, orang tua atau PRT saya nggak pernah menyiksa saya --seperti yang saya lihat di sebuah video kekerasan anak bulan ini. Saya adalah anak perempuan tertua di rumah, dan saya terkenal galak di antara dua adik perempuan saya. Tapi ya sudah, saya cuman galak biasa aja, kayak gimana sewajarnya kakak ke adik. Buat saya, marah itu manusiawi. Tapi, kalau anak-anak bertingkah nakal, apa itu juga nggak manusiawi? Toh mereka masih di bawah umur... Kenapa sih orang dewasa nggak mencoba buat memaklumi itu?? 

Jadi, ketika saya melihat video itu hari ini, saya kaget setengah mati. (lihat di link ini, atau ini, sisanya bisa dicari sendiri) Kok bisa ya? Tepatnya, kok TEGA ya, orang berbuat begitu sama anak-anak... Terlepas dari apakah pelakunya orang tua kandung atau PRT, saya tetap tidak bisa menolerir tindakan ini. 

Dulu saya juga memiliki PRT yang galak (dan terkadang menabok saya ketika saya ngisengin adik saya, tapi buat saya itu wajar, karena kenakalan saya waktu itu keterlaluan sekali). Dia cukup protektif pada adik saya (hahaha...). Bahkan, jasa baik dia pada keluarga kami tidak bisa dibilang sedikit. Ia banyak membantu saya dan adik-adik saya ketika kedua orang tua saya tidak ada di rumah. Pekerjaannya sempurna. Masakannya juga cukup enak. Bahkan keluarga kami mempertahankannya sejak saya masih TK hingga saya masuk kuliah. Lama sekali. Dia memperlakukan kami seperti layaknya adik sendiri. Saya sempat geli karena pernah memintanya mengerjakan PR ketika saya malas. Dia mau mengerjakannya, meskipun sebenarnya dia belum pernah lulus SD. Keesokan harinya di sekolah, PR saya salah semua. Namun saya menghargai bantuannya, saya juga salah karena meminta orang lain mengerjakan PR saya (hahaha...). Dia tetap bekerja pada keluarga kami hingga akhirnya dia menikah dan sekarang memiliki seorang anak. Dari sini saya yakin, nggak semua PRT itu jahat sama anak majikannya. Beberapa PRT yang pernah bekerja di keluarga saya semuanya baik-baik, tidak pernah memperlakukan anak-anak sembarangan. Bahkan PRT keluarga kami sekarang sangat perhatian dan selalu membawakan oleh-oleh setelah pulang kampung. Setiap saya pulang ke rumah, dia meladeni saya seperti seorang putri. Saya jadi terharu. 

Kadang saya nggak enak, dia lebih tua dari saya, tapi waktu dia kerja saya malah ongkang-ongkang kaki. Meskipun demikian, keluarga kami selalu menekankan, bahwa yang namanya PRT itu Pembantu Rumah Tangga, jadi fungsinya ya cuman MEMBANTU. Jadi jangan semuanya diserahkan pada PRT. Sekali-sekali boleh dong kita kerjain sendiri. Kasihan juga kan mereka kerja segitu berat. Jangan mentang-mentang kita sudah menggaji dia, lalu kita berhak menyuruh-nyuruh dia tanpa henti? Kalau begitu, apa bedanya abad 21 sama jaman perbudakan? 

PRT jahat, mungkin nggak sih? Kembali ke topik utama. Itu sebagian pendapat saya --karena saya pernah dan sedang mengalami pengalaman menyenangkan dengan PRT. Tapi memang, tidak menutup kemungkinan Anda bisa mengalami kejadian yang bertolak belakang dengan apa yang saya alami. Beberapa PRT ada yang bersikap sedemikian baiknya, tapi malah menculik anak majikan setelah baru beberapa hari bekerja. Ada juga PRT yang kesal karena anak majikannya nakal dan cengeng, lalu memberi obat tidur pada anak tersebut, agar si PRT tidak repot-repot lagi mengurusnya. Ada juga yang mengalihkan kelelahan, kekecewaan, dan kekesalannya dengan menyiksa anak majikan (seperti yang ada di video tadi). Huaaah, banyak sekali pelampiasan mereka yang nggak bisa saya sebutin satu persatu. 

Pinjem kata-kata yang ada di mata kuliah Keamanan Global, kelompok pemberontak biasanya muncul karena kekecewaan tertentu, tidak adanya pengakuan atas eksistensi mereka sehingga kepentingan mereka tidak tersalurkan dengan baik. Jadi buat saya, analogi ini bisa dipakai buat hubungan PRT-majikan-anak majikan. PRT (Insyaallah) nggak bakalan berontak kalau kita berikan kebutuhannya selayaknya, pekerjaan yang tidak berlebihan, waktu istirahat yang cukup, dan penghargaan/pengakuan atas posisi mereka. Anak-anak kita juga perlu diajarin supaya nggak nyebut ia sebagai pembantu di hadapan teman-temannya, atau bersikap terlalu ketergantungan sama PRT. Selain nggak baik untuk anak Anda, hal ini juga bisa mendorong rasa kesal bagi PRT. Ketika rasa itu muncul, dan parahnya Anda sedang tidak ada di rumah, secara tidak langsung Anda telah memberikan kesempatan PRT untuk memanfatkan kelemahan anak Anda ---yaitu:kondisi anak Anda yang masih kecil dan lebih lemah. Kalau kadar kekesalan ini sudah memuncak, ia tidak perlu menunggu anak Anda melakukan kesalahan supaya ia bisa menghakiminya tanpa sepengetahuan Anda --atau bahasa kasarnya: menyiksa. Karena itu, jangan pernah membuat PRT Anda memendam rasa kesal berlebihan. 

Tugas Anda ada 2: kontrol anak Anda, lalu kontrol PRT Anda. Bagaimana mencegahnya? Untuk itulah, alangkah baiknya Anda berhati-hati untuk memilih PRT --apalagi Pengasuh Anak. Berikut beberapa langkah prefentif yang (semoga) bisa membantu Anda: 

  1. Pertama, jika Anda terbiasa memilih PRT atau Pengasuh Anak (Nanny) dari agen penyalur, pilihlah agen penyalur yang terpercaya.
  2. Sebelum memutuskan memilih PRT/Nanny tsbt, yakinkan diri Anda, apakah dia sudah sesuai dengan kriteria yang Anda inginkan? Jika Anda tidak yakin, jangan memaksakan diri. Jangan mudah tertipu penampilan. Don't ever judge the book by it's cover. PRT yang nampaknya baik, belum tentu sebaik kelihatannya. Oh ya, jangan memilih PRT yang terlalu banyak bicara, karena biasanya mereka adalah penggossip yang berbahaya (tidak hanya untuk Anda, tapi juga bagi tetangga Anda dan PRTnya) ;P 
  3. Usahakan Anda melacak informasi alamat atau nomor telefon keluarga PRT tersebut, pastikan alamat dan nomor telefon tersebut asli, agar jika sewaktu-waktu terjadi apa-apa, kita lebih mudah melacak keberadaannya. Jika ada waktu senggang, bertemulah dengan keluarganya. 
  4. Berikutnya, jangan memperlakukan PRT sebagai 'orang lain', biasanya, orang dengan kondisi ekonomi lemah akan mudah sekali tersinggung dengan kata:'pembantu', atau hal-hal simpel seperti pembedaan menu makanan. Jika Anda ingin membedakannya, usahakan menyampaikannya dengan cara yang halus. Sedari awal, jelaskan peraturan-peraturan di keluarga Anda. Ajaklah ia berekeliling rumah sambil menjelaskan detail-detail pekerjaannya tiap hari. Ungkapkan dengan santai. Tidak perlu terlalu formal dan kaku, jangan menggunakan kata-kata yang terlalu 'tinggi'. Bukan apa-apa, takutnya nggak semua PRT sudah cukup 'canggih' dan familiar dengan perbendaharaan kata-kata Anda.
  5. Meskipun demikian, alangkah bijaknya jika Anda tidak langsung mempercayakan anak sepenuhnya pada PRT, hati-hati jika ia mengajaknya jalan-jalan ke luar rumah. Namun demikian, jangan menampakkan kecurigaan Anda terlalu berlebihan. Bisa jadi ia malah tidak betah bekerja dan minta dipulangkan. 
  6. Mungkin ini terlihat sepele, tapi terkadang mengajak PRT menonton tv bersama sambil ngobrol-ngobrol dan bercanda bisa jadi hal yang menghibur dan sangat menyenangkan. Kita bisa mendengar pengalaman-pengalaman kerjanya, mendengarkan curhatan-curhatannya, dan yang paling penting: tempatkan ia sebagai 'bagian dari keluarga'. Kalau kami nggak kayak gitu, kami mungkin nggak akan pernah tahu kalau PRT kami ternyata punya bakat terpendam sebagai pelawak (hahaha...). Ibu saya juga sering mengajaknya berkebun bersama. Jika memungkinkan, kadang kami juga mengajaknya makan malam di luar, untuk sekedar refreshing. Mungkin kebiasaan keluarga kami yang satu ini perlu Anda tiru, keluarga kami hampir tidak pernah menyebut kata:"PRT" sekalipun di hadapan mereka. Dia selalu kami perkenalkan sebagai:"...ini loh yang kerja di keluarga kami..." 
  7. Selalu ucapkan terimakasih setelah dibantu olehnya. Sekecil apapun penghargaan Anda, pasti akan sangat menyentuh mereka. 
  8. Jangan pernah beranggapan: "saya majikan, karenanya saya selalu benar." Kita sama-sama manusia, sama-sama makan nasi. Nggak ada yang bisa ngedasarin kita buat bersikap superior dibandingkan PRT. Semua manusia di mata Tuhan sama. Bisa jadi ketika kita meremehkannya, ia justru lebih mulia di mata Tuhan. Siapa yang tahu jika ibadah yang ia lakukan jauh lebih banyak dibandingkan kita? Jika ia salah, nasehati dengan halus. Mungkin dampaknya tidak akan terasa dalam jangka waktu yang singkat, tapi perlahan-lahan ia pasti belajar menghargai kepercayaan atas pekerjaan yang Anda beri. Kalaupun tadinya ia punya niat jahat, Insyaallah ia bakalan sadar sendiri kok. Malahan ia justru ngerasa nggak tega dan bersalah banget kalau sampai terjadi apa-apa sama keluarga Anda. ^,^ 
Yah...sekali lagi, semuanya kembali pada pribadi PRT yang akan kita pekerjakan nanti. Terkadang kita-nya sudah maksimal, tapi dia kerjanya minimal, banyak ngeluh pula. Tapi...mbok yo jangan menjudge semua PRT seperti nenek sihir. Saya yakin, mereka bisa betah bekerja di keluarga Anda (terkecuali jika orang tsbt memang malas-malasan). Yang terpenting, tetap hati-hati dan waspada, karena (pinjam kata-kata bang Napi) "kejahatan ada karena ada kesempatan."

0 Kicauan:

Post a Comment

Whom I've been grateful of

Blog Statistics

Recent Comments

Archives

Popular Posts

 
Copyright © 2010 Thisisrizka, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger